Page 18 - index
P. 18
6 Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme
yang memadai hanya terkonsentrasi di kota-kota besar, seperti Jakarta,
Bandung, Surabaya, Yogjakarta dan Semarang. Jadi jika berbicara tentang
daya serap pasar pembaca, kota-kota besarlah yang mempunyai daya serap
tinggi dibanding kota-kota kecil bahkan pedesaan (Kurnia, 2008).
Kurang membudayanya perilaku membaca di kalangan anak-anak
dan remaja di tanah air ini sudah barang tentu bukan hanya disebabkan
kondisi penerbitan seperti dipaparkan, tetapi dugaan tentang rendahnya
minat baca anak dan remaja bisa juga disebabkan oleh berbagai faktor lain,
yaitu harga buku yang terlalu mahal menurut ukuran kemampuan ekonomi
kebanyakan keluarga di Indonesia (lihat: Sularto, Brata & Benedanto (eds.),
2004).
Memang, selama ini salah satu faktor yang banyak disebut sebagai
salah satu kendala untuk menumbuhkan perilaku membaca di kalangan
anak adalah kemampuan ekonomi yang rendah sehingga relatif sedikitnya
jumlah buku di pasaran yang harganya bisa dijangkau masyarakat. Di
kalangan keluarga yang hidupnya pas-pasan atau secara ekonomi rentan,
barangkali benar tingginya harga buku bisa dituding menjadi penghambat
utama bagi tumbuhnya perilaku gemar membaca pada anak. Untuk
keluarga yang relatif miskin buku memang merupakan barang mewah
dan menjadi kebutuhan hidup nomor sekian. Kelebihan uang dari hasil
bekerja lebih condong disimpan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi
daripada dipergunakan untuk membeli buku bagi anak-anak mereka.
Tetapi, pertanyaannya kemudian: kenapa di kalangan keluarga atau
anggota masyarakat yang hidupnya berkecukupan dan kaya, ternyata
ada indikasi anak-anak mereka pun seringkali tetap tak memiliki perilaku
gemar membaca? Apakah perilaku gemar membaca tumbuh dan berkaitan
hanya dengan faktor ekonomi semata? Banyak bukti menunjukkan, kendati
banyak warga masyarakat hidup berkecukupan, ternyata tidak semua selalu
mau dan biasa menyisihkan sebagian harta miliknya untuk membeli buku
bagi anak-anaknya (lihat: Sugihartati, 1999; Ibrahim, 2007: 309-328). Paling-
tidak, para orang tua yang berlimpah secara materi ini, ternyata seringkali
hanya bersikap acuh tak acuh, tidak terlalu menaruh perhatian pada arti
penting membaca, dan cenderung hanya memberikan uang saku yang
cukup kepada anak-anaknya, tanpa mau bersikap pro-aktif mendorong
anaknya untuk gemar membaca.

