Page 16 - index
P. 16

4                                         Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme


              minat dari diri sendiri (Krashen, 2004: x, 1), karena memang sesungguhnya
              menurut Graff (1992)  reading for pleasure  adalah lebih merupakan aktivitas
              interpretatif, hermeunetik, yang dibentuk oleh ekspektasi dan pengalaman
              pembaca serta konteks sosial-budaya yang melingkupinya (lihat: Clark &
              Rumbold, 2006).
                    Di berbagai negara maju, seperti di Amerika, Kanada, dan Australia,
              studi tentang perilaku membaca memang telah cukup banyak dilakukan,
              terutama dalam kaitannya dengan upaya pengembangan literasi. Berbagai
              studi yang dilakukan hanya mengkaji persoalan pola dan intensitas
              membaca, membandingkan aktivitas membaca dengan aktivitas sosial
              yang lain, mengkaji budaya membaca yang berkembang di kalangan siswa,
              pasang-surut gairah membaca, pemanfaatan perpustakaan, atau survei yang
              mencoba memetakan serta membedakan perilaku membaca remaja kota dan
              desa (lihat: McCreath, 1975; Clark & Rumbold, 2006; Whitehead & Kolega,
              1977; Fractor, Woodruff, Martinez, Teale, 1993, dalam: Arthur, 1995; Vivian
              Howard, 2006; Niewenhuizen, 2001; Cartwright & Allen, 2002).

                    Di Indonesia sendiri, meski studi tentang perilaku membaca yang
              dilaksanakan belum sebanyak studi-studi yang dilakukan di negara
              maju, tetapi paling-tidak ada beberapa studi yang bisa dijadikan rujukan
              awal untuk mengkaji lebih jauh persoalan perilaku membaca di kalangan
              remaja urban, khususnya dari perspektif Cultural Studies. Hasil kajian yang
              dilakukan Ibrahim (2007: 314), misalnya menyimpulkan bahwa peningkatan
              kesejahteraan ekonomi masyarakat di Indonesia ternyata tidak serta-merta
              berkorelasi dengan meningkatnya perilaku gemar membaca, dan jumlah
              pembelian buku atau bacaan yang lain. Sementara itu, Mudjito (1993)
              menyatakan bahwa saat ini sebagian besar anak Indonesia baru sampai pada
              taraf gemar mendengarkan atau melihat, belum sampai pada taraf gemar
              membaca. Minat baca anak di Indonesia tergolong paling rendah di dunia.
              Diperkirakan hanya sekitar 10% anak Indonesia tergolong kelompok gemar
              membaca. Sementara itu, sekitar 90% yang lain disinyalir masih enggan dan
              belum memiliki budaya gemar membaca, karena faktor lingkungan yang
              tidak mendukung atau karena kesulitan mengakses buku-buku yang dapat
              mereka baca.
                    Walaupun berbagai upaya telah dilakukan untuk mendongkrak perilaku
              gemar membaca, secara obyektif harus diakui bahwa gairah masyarakat un-
   11   12   13   14   15   16   17   18   19   20   21