Page 14 - index
P. 14
2 Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme
dalam mengisi waktu luang (leisure) dan sebagai pilihan mandiri yang
penuh dengan kesenangan, serta sekaligus dalam kaitannya sebagai bagian
dari mata rantai produk budaya populer kekuatan kapitalisme.
Perilaku membaca untuk kesenangan ini, dirasakan penting diteliti
lebih mendalam karena aktivitas ini sesungguhnya bukan sekadar aktivitas
yang hanya mengedepankan kesenangan, mengesampingkan aktivitas
lain yang lebih penting dan dikatakan beberapa pihak tidak memberikan
dampak yang signifi kan bagi upaya pengembangan kualitas sumber daya
manusia. Aktivitas ini sebenarnya berbeda dengan aktivitas membaca
untuk kepentingan sekolah yang seringkali dilakukan secara “terpaksa”
bahkan penuh beban dalam rangka belajar, perilaku membaca untuk
kesenangan berkembang sebagai pilihan suka rela dan alternatif kegiatan
yang menarik sekaligus penting, terutama bagi kalangan remaja urban.
Studi yang dilakukan Arthur (1995), Strauss (1998), dan Block & Mangieri
(2002) membuktikan terdapat pengaruh-pengaruh positif di antaranya
ditemukan bahwa aktivitas membaca untuk kesenangan bukannya terbukti
menafi kan dan mengganti aktivitas remaja membaca untuk kepentingan
sekolah, justru yang terjadi aktivitas membaca untuk kesenangan ternyata
malah mendorong peningkatan kemampuan literasi, penguasaan kosa kata
menjadi lebih banyak dan prestasi akademik siswa di sekolah juga ikut
meningkat.
Studi ini memang tidak hendak mengkaji kebenaran dampak-dampak
positif membaca seperti yang dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya,
namun mengkaji perilaku membaca untuk kesenangan dari perspektif Cul-
tural Studies yang menempatkan perilaku membaca sebagai aktivitas buda-
ya. Dengan menggunakan perspektif ini selain lebih memahami persoalan
perilaku membaca dari sudut pandang subyek pembacanya, tetapi sebetul-
nya dapat diharapkan menjadi sebuah terobosan baru untuk “pintu masuk”
atau pijakan awal bagi upaya pengembangan sumber daya manusia yang
lebih strategis dan mendasar. Seperti dikatakan Tilaar (1999: 382), bahwa
membaca sesungguhnya adalah fondasi dari proses belajar. Masyarakat
yang gemar membaca (reading society) akan melahirkan masyarakat belajar
(learning society), karena membangun perilaku dan budaya membaca adalah
kunci untuk membangun masyarakat ilmu pengetahuan (knowledge society)
yang berbasis pada pengembangan kualitas sumber daya manusia.

