Page 15 - index
P. 15
Menakar Perilaku Gemar Membaca Remaja Urban 3
Di Indonesia, hingga saat ini persoalan membaca, perilaku membaca
maupun minat baca masih menjadi perhatian utama dalam berbagai
pembahasan seputar pengembangan kualitas sumber daya manusia
masyarakat khususnya generasi muda. Dikaitkan dengan literacy rate
sebagai indikator Human Development Index (HDI), peringkat Indonesia
masih di bawah negara-negara seperti Thailand, Malaysia, Filipina dan
Vietnam (Jalal & Sardjunani, 2005). World Bank di dalam salah satu laporan
pendidikannya juga mencatat tentang rendahnya kemampuan membaca
anak-anak Indonesia. Dengan mengutip hasil studi Vincent Greanary,
World Bank juga menunjukkan kemampuan membaca siswa kelas 6 SD di
Indonesia. Secara rinci Indonesia mendapatkan nilai 51,7 yang berada di
urutan paling akhir setelah Filipina (52,6), Thailand (65,1), Singapura (74,0)
dan Hongkong (75,5). Artinya kemampuan membaca siswa di Indonesia
memang tergolong paling buruk dibandingkan siswa dari negara-negara di
Asia. Selain itu, hasil penelitian yang dilakukan Tim Program of International
Student Assessment (PISA) Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas
menunjukkan bahwa kemahiran membaca anak usia 15 tahun di Indonesia
memprihatinkan. Sekitar 37,6% hanya bisa membaca tanpa bisa menangkap
maknanya dan 24,8% hanya bisa mengkaitkan teks yang dibaca dengan satu
informasi pengetahuan (Kompas, 2 Juli 2003).
1.1 MEMBACA UNTUK KESENANGAN, SUDAHKAH
MEMBUDAYA?
Dalam berbagai studi yang selama ini telah dilakukan, ada beberapa
istilah yang acapkali dipergunakan untuk menyebut aktivitas membaca
untuk kesenangan, antara lain independent reading (Cullinan, 2000), voluntary
reading (Krashen, 2004), leisure reading (Greaney, 1980), recreational reading
(Manzo & Manzo, 1995), ludic reading (Nell, 1988), atau free voluntary reading
(Krashen, 2004). Terlepas, apapun terminologi yang dipergunakan, membaca
untuk kesenangan mengandung pengertian bahwa aktivitas membaca yang
dilakukan lebih dikarenakan aktivitas yang dibutuhkan, dilakukan dengan
senang, tanpa ada beban untuk melaporkan seperti halnya tugas membaca
di sekolah. Dalam kegiatan ini, seseorang tidak diharuskan menyelesaikan
seluruh bacaan jika tidak suka. Dengan demikian membaca untuk kesenangan
merupakan jenis aktivitas yang mengarah pada pengembangan keinginan dan

