Page 19 - index
P. 19
Menakar Perilaku Gemar Membaca Remaja Urban 7
Faktor lain yang dianggap sebagai penyebab rendahnya minat mem-
baca adalah kurangnya peran dan perhatian orang tua dalam membangun
iklim yang kondusif untuk menumbuhkan perilaku gemar membaca di ka-
langan anak-anak mereka. Di jaman yang serba modern seperti sekarang
ini, ada kecenderungan para orang tua umumnya lebih senang membelikan
anak-anak mereka permainan elektronik, seperti video game atau game watch
daripada memberi hadiah buku-buku yang berguna. Di sisi lain, anak-anak
yang duduk diam berjam-jam menonton video atau acara-acara televisi acap-
kali juga dibiarkan begitu saja oleh para orang tua, karena hal itu dianggap
jauh lebih baik daripada anaknya bermain di luar rumah. Di abad modern
seperti sekarang ini, anak yang tumbuh acapkali disebut sebagai generasi
virtual, yang familiar dengan budaya digital, namun kurang apresiatif terha-
dap budaya membaca (Ibrahim, 2007: 322-323). Di mata para orang tua, asal
anak-anak mereka tetap tinggal di rumah, itu tampaknya sudah dinilai cu-
kup. Persoalan apakah anaknya gemar membaca buku atau tidak, biasanya
tidak terlalu merisaukan orang tua. Di benak orang tua, ada kesan bahwa
usaha untuk menumbuhkan minat gemar membaca semata-mata hanyalah
dianggap sebagai tugas pendidik, guru atau sekolah sebagai sebuah institusi
akademis-ilmiah.
Tentang alokasi pemanfaatan waktu luang untuk membaca, studi
Sugihartati (1999) yang meneliti anak-anak di perkotaan menemukan
sebagian besar anak (72%) melakukan kegiatan membaca rata-rata kurang
dari 7 jam per minggu atau tidak sampai 1 jam per harinya. Dari 100 anak-
anak yang diteliti, hanya 24% yang mengaku membaca buku 1-2 jam
per hari. Bagi anak-anak membaca buku atau majalah tampaknya tidak
atau masih belum dilihat sebagai kegiatan yang menyenangkan. Mereka
cenderung lebih menyukai memanfaatkan waktu luangnya untuk bermain
atau menonton televisi daripada membaca. Di mata anak-anak, kehadiran
berbagai permainan elektronik —seperti Nintendo atau game watch— bukan
saja merupakan hal yang baru, tetapi dalam banyak hal juga dinilai lebih
menyenangkan dan menghibur. Di samping itu, kemunculan berbagai
stasiun televisi swasta dan makin maraknya acara fi lm anak-anak di layar
kaca juga menjadi alternatif yang tak kalah menarik bagi anak.
Sekadar pembanding: di negara seperti Amerika Serikat, Inggris dan
Australia waktu yang dihabiskan anak usia sekolah untuk menonton acara

