Page 17 - index
P. 17
Menakar Perilaku Gemar Membaca Remaja Urban 5
tuk membaca masih jauh dari menggembirakan, dan hal ini sedikit-banyak
pararel dengan kondisi dunia penerbitan buku di tanah air. Perkembangan
dan jumlah produksi buku di Indonesia masih kalah jauh bila dibandingkan
kondisi di negara maju. Diperkirakan jumlah produksi buku di Indonesia per
tahun hanya sekitar 4.800 judul —termasuk komik— dengan masing-masing
judul rata-rata dicetak 3.000 eksemplar. Dibandingkan dengan negara seperti
Amerika yang diperkirakan setiap tahun menerbitkan sekitar 50.000 judul
atau Jepang yang rata-rata 100.000 judul per tahun, jelas kita kalah jauh. Bah-
kan, dibandingkan dengan negara tetangga Malaysia saja Indonesia masih
kalah. Di Malaysia rata-rata memproduksi sekitar 7.000 judul per tahun. Dan,
satu hal yang merisaukan, meskipun sangat sedikit jumlah buku yang dicetak
—tak sampai 20 juta judul buku per tahun— itu pun ternyata tak bisa dengan
cepat diserap pasar. Menurut pengalaman, baru sekitar 2-3 tahun atau bah-
kan lebih buku-buku itu habis di pasaran. Di samping itu, berbeda dengan
produksi buku di negara maju yang sebagian besar adalah buku-buku umum
populer, di Indonesia dari 4.800 judul yang ada, 80% ternyata didominasi
buku-buku pelajaran sekolah yang sifatnya wajib. Banyak penerbit yang ada
sebenarnya bisa bertahan karena semata-mata mengandalkan hidupnya dari
proyek-proyek buku sekolah (lihat: Suseno dkk., 1997; Ibrahim, 2007).
Bertolak belakang dengan data di atas, ada pendapat lain yang men-
gatakan bahwa sebenarnya dunia perbukuan di Indonesia telah berkembang
akhir-akhir ini. Jumlah buku yang diterbitkan makin bertambah. Walaupun
belum ada data pasti tentang jumlah buku baru yang terbit dalam setahun,
namun mengacu pada jumlah buku yang diterima jaringan toko buku be-
sar, seperti Gramedia dan Gunung Agung, setidaknya bisa dikatakan Indo-
nesia mampu menerbitkan 12.000 judul buku baru dalam setahun. Jumlah
tersebut tidak termasuk buku cetak ulang dalam tahun yang sama. Dengan
rata-rata cetak perjudul 3.000 eksemplar, maka setidaknya para penerbit In-
donesia mampu menghasilkan 36.000.000 eksemplar buku dalam setahun.
Sekilas jumlah illustrasi tersebut tergolong besar. Namun, jika dibandingkan
dengan jumlah penduduk Indonesia yang berjumlah 250 juta orang, maka
angka itu sangat memprihatinkan. Jika semua buku tersebut habis terserap
pembaca, maka satu buku dikonsumsi oleh 6 sampai 7 orang dalam seta-
hun. Celakanya, perbandingan tersebut belum dianggap mewakili, karena
pola distribusi buku di Indonesia yang kurang merata. Toko-toko buku

