Page 117 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 117

BAB 6  ERA EKONOMI LIBERAL



                                              12
            dikerjakan dalam rangka kerja bebas,  sehingga terjalin kerja sama antara
            pemerintah dengan pihak swasta dalam bidang pengangkutan.



            PERAN SWASTA DALAM PENGANGKUTAN PRODUK PEMERINTAH
                 Keterlibatan swasta dalam pengangkutan hasil bumi produk
            dari sistem tanam paksa di  Banyumas sudah berlangsung lama. Peran
            tersebut sudah ada sebelum pemerintah kolonial  Belanda secara resmi
            memberlakukan sistem ekonomi liberal. Sejak tahun 1860-an, pihak swasta
            terlibat dalam pengangkutan, walaupun pada saat itu pengangkutan
            belum berfungsi sebagai pengangkutan bebas dan semata-mata sebagai
            pendukung sistem tanam paksa. Peran yang dijalankan oleh para
            pengusaha angkutan pun sebenarnya tidak lebih hanya sebagai koordinator
            pengangkutan karena tenaga pengangkutannya masih menggunakan
            tenaga penduduk dalam kerangka kerja wajib (  heerendiensten).
                 Sebagaimana telah diuraikan dalam bab sebelumnya, sampai tahun
            1860-an pengangkutan produk pemerintah masih sering mengalami
            berbagai hambatan terutama akibat dari jeleknya kondisi jalan maupun
            hambatan yang datang dari alam, seperti tebing yang tinggi, jurang yang
            curam, rawa, batu, serta hujan. Tingginya curah hujan yang turun di
              Banyumas menyebabkan kondisi jalan menjadi sangat jelek dan berlumpur.
            Hal itu menjadi penghambat, bahkan kadang menghentikan sebagian
            besar kegiatan pengangkutan. Sebagai contoh, kondisi yang sangat
            sulit menyebabkan para pengusaha hanya mampu memberangkatkan
            17 gerobak setiap harinya untuk mengangkut kopi dari gudang di
              Banjarnegara menuju  Banyumas. 13
                 Jumlah gerobak ataupun cikar yang ada saat itu juga masih sangat
            terbatas bila dibandingkan dengan jumlah kopi yang harus diangkut.
            Pemerintah tentu sangat khawatir dengan kondisi infrastruktur
            transportasi yang tersedia sebab keterlambatan kopi sampai ke gudang
            di pelabuhan tentu akan menyebabkan kerugian yang tidak sedikit.



               12  Ibid., hlm. 95.
               13  Kolonial Verslag 1864, hlm. 131.


                                                                              99
   112   113   114   115   116   117   118   119   120   121   122