Page 122 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 122
ARKEOLOGI TRANSPORTASI
Perspektif Ekonomi dan Kewilayahan Keresidenan Banyumas 1830–1940an
Gudang Pembelian Jumlah Kopi Terkumpul (Dalam Pikul)
Tempat Distrik 1882 1883 1884
Kepil “ 440 380 470
Bruno “ 590 130 820
Kalibawang “ 1.470 710 1.590
Selonegoro Kaliworo 630 370 1.420
Ngalian “ 720 790 1.270
Wadaslintang “ 530 590 1.610
Lamuk “ 640 250 750
Jumlah 25.340 16.000 28.530
Sumber: Zuhdi (2002), hlm. 31
Kopi-kopi dari distrik Purworejo, Loano, Cangkreb, Kemiri, Pituruh,
dan Kebumen diangkut dengan gerobak menuju Cendaga. Dari tempat
ini kopi diangkut dengan perahu lewat Sungai Serayu dan terusan Kali
Yasa menuju gudang induk di Cilacap. Kopi dari Wonosobo, Kalialang,
Leksono, Sapuran, serta Kaliwiro diangkut ke gudang di Bandingan
( Banjarnegara). Dari gudang Bandingan kopi diangkut dengan gerobak
dan cikar ke Purwareja ( Klampok), setelah itu kemudian diangkut dengan
perahu ke Cilacap.
Tabel 12 dan 13 memperlihatkan bahwa persebaran daerah
penanaman kopi di Keresidenan Bagelen ternyata lebih luas dibandingkan
di Keresidenan Banyumas. Di samping itu, jumlah kopi yang dihasilkan
juga lebih banyak. Pada tahun 1882, ketika jumlah kopi dari Banyumas
hanya sebesar 21.280 pikul, kopi yang diangkut oleh S. A. Thomas dari
Keresidenan Bagelen sebanyak 25.340 pikul.
Luasnya jangkauan pengangkutan kopi oleh S. A. Thomas menjadikan
wilayah Banyumas semakin strategis karena wilayah ini menjadi
jalur pengiriman kopi menuju Pelabuhan Cilacap. Kondisi seperti itu
menjadikan dinamika ekonomi di wilayah Banyumas, terutama di jalur-
jalur transportasi, semakin dinamis dan berkembang. Daerah-daerah
pergudangan merupakan daerah yang selalu ramai setiap kali musim
panen kopi datang. Daerah tersebut menjadi embrio perkembangan
wilayah perkotaan di masa-masa yang akan datang.
104

