Page 114 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 114

ARKEOLOGI TRANSPORTASI
              Perspektif Ekonomi dan Kewilayahan Keresidenan Banyumas 1830–1940an



              yang menjadi dasar prinsip-prinsip kebebasan individu dan berusaha di
               Hindia  Belanda. 4
                   Pelaksanaan prinsip-prinsip liberal tidak semata-mata berarti
              terbaginya kekuasaan pemerintah dengan perwakilan rakyat, tetapi juga
              berarti dilancarkannya kritik terhadap segala persoalan mengenai kebijakan
              koloni. Usaha-usaha kaum liberal untuk mengadakan sejumlah reformasi
              didasarkan pada doktrin ekonomi politik klasik serta ditunjukkan untuk
              melawan monopoli dan pemaksaan. Sejalan dengan diberlakukannya
              ide-ide liberal dalam sektor ekonomi, berlakulah prinsip tidak campur
              tangan yang ditujukan kepada pihak kerajaan. Segala rintangan terhadap
              prinsip individu dan kebebasan harus dihapuskan, serta segala bantuan
              pemerintah terhadap usaha swasta harus dihentikan. Hal itu berarti
              runtuhlah kebijakan ekonomi merkantilisme dan proteksionisme. 5
                   Perubahan opini tentang politik kolonial berlangsung sangat cepat
              sehingga gerakan yang ditujukan kepada reformasi menjadi semakin
              kuat. Tuntutan golongan liberal terhadap kebijakan politik kolonial
              adalah bahwa liberalisasi di daerah-daerah koloni haruslah sama dengan
              liberalisasi yang dijalankan di negeri induk. Mereka menentang proteksi
              dan eksploitasi pemerintah di tanah koloni. Liberalisasi ekonomi harus
              diterapkan di  Hindia  Belanda. Oleh karena itu, sistem seperti hak-hak
              dan tarif-tarif yang berbeda serta konsinyasi harus dihapuskan. Sebagai



                 4  Paham liberal dalam bidang ekonomi semula dikembangkan oleh Adam Smith (1723-1790)
              dan David Ricardo (1772-1823) di Inggris. Di Belanda ide-ide liberal mendapat dukungan dari
              kaum kapitalis. Dapat disebutkan misalnya Baron van Hoevell. Vitalis, serta beberapa yang
              lainnya dari golongan kapitalis yang secara politis semakin kuat setelah tahun 1850 dengan
              semakin banyaknya perwakilan kaum kapitalis dalam dewan perwakilan rakyat Belanda.
              Lihat Sartono Kartodirjo, Marwati Djoened Poesponegoro, dan Nugroho Notosoesanto, Sejarah
              Nasional Indonesia, Jilid IV, (Jakarta: Depdikbud, 1975), hlm. 85.
                 5  Ciri utama dari pandangan merkantilistik adalah bahwa politik atau kekuasaan harus
              berperan lebih dominan dalam proses-proses ekonomi karena peran politik dan kekuasaan
              ada di tangan negara maka konsekuensinya praktik-praktik ekonomi harus berada dalam
              aturan negara. Negara menjadi aktor utama yang secara aktif dan rasional mengatur ekonomi
              demi meningkatkan kekuasaan negara. Martin Staniland, What is Political Economy? A Study of
              Social Theory and Underdevelopment. (New Haven: Yale University Press, 1985), lihat juga Mohtar
              Mas’oed, Ekonomi Politik Internasional dan Pembangunan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1994),
              hlm. 18-21.


              96
   109   110   111   112   113   114   115   116   117   118   119