Page 467 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 467
Psikologi Abal-Abal di Era Digital
angka ‘1’ di kolom komentar dan lihat apa yang akan terjadi pada
ular ini” kiranya sangat menggugah pikiran bagi mereka yang belum
mampu beradaptasi dengan bizzare-nya dunia maya. Tergerak oleh
“kepo” atau dorongan ingin tahu dan ketakutan tidak mendapatkan
rumah atau menemui bencana lainnya, secara impulsif mereka akan
mematuhi ajakan itu.
Andaikan pada contoh di atas kita klik LIKE, benarkah itu kita
lakukan karena mengharapkan mendapatkan rumah tahun depan?
Kalau memang tidak ada rencana ikut undian, tidak ada dana warisan,
dan tidak ada niat untuk membeli rumah, mana mungkin tiba-tiba
sebuah rumah jatuh dari langit? Cobalah yakinkan diri Anda dan
setiap hari lakukanlah perintah “Klik LIKE jika Anda ingin menemukan
uang Rp. 5.000,00 di tengah jalan”. Benarkah Anda mendapatkan
uang Rp. 5.000,00 di tengah jalan setiap hari? Jika cuma dengan klik
LIKE seseorang bisa mendapatkan semua materi yang diinginkannya
tanpa usaha dan kerja, kami pun yakin bisa menyejahterakan seluruh
rakyat Indonesia tanpa harus menjadi Presiden. Kami jamin!
Pendidikan untuk berpikir kritis semacam itulah yang perlu
diberikan pada masyarakat pengguna Internet. Masih banyak bentuk
stimuli lain yang bertujuan membodohi atau menyebarkan paham
dan gerakan politik tertentu. Apalagi menghadapi pengguna yang
tidak memiliki pemahaman memadai, cukup dipancing dengan isu-
isu SARA, komunis, illuminati, Yahudi, Freemason, etnis ini, etnis
itu, dan sejenisnya, maka akan membludaklah komentar emosional
mereka. Logika berpikir sesat yang menggeneralisasikan keburukan
satu oknum pada satu kelompok masyarakat jelas keliru dan perlu
diwaspadai. Belum lagi gaya bahasa satire dan sarkasme mulai
populer di kalangan pengguna media social dan cukup banyak warga
masyarakat yang menganggapnya sebagai sesuatu yang serius dan
bukan sekadar sindiran sehingga emosi mereka pun terpancing
kembali.
Di sinilah seharusnya media berperan memfasilitasi serta memupuk
pluralitas dan toleransi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,
bukan malah memberikan informasi provokatif atau memanfaatkan
ketidaktahuan pengguna Internet untuk tujuan keuntungan semata,
entah tujuan marketing maupun politis. Edukasi tentang gaya bahasa
satire dan sarkasme dalam penulisan perlu diberikan secara khusus
435

