Page 471 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 471

Psikologi Abal-Abal di Era Digital

             diperbincangkan adalah pernyataan sebuah lembaga keagamaan
             bahwa pelaku  LGBT harus direhabilitasi (“MUI minta”, 2016). Ada
             sebagian warga masyarakat yang setuju dengan pernyataan tersebut,
             tetapi tidak sedikit pula yang tidak setuju. Mereka yang setuju
             sebagian besar mendasarkan sikap mereka pada argumentasi agama
             dan norma yang dijunjung di Indonesia, sebagian kecil mendasarkan
             sikap mereka pada argumentasi ilmiah. Sebaliknya, mereka yang tidak
             setuju pada umumnya mendasarkan sikap mereka pada argumentasi
             ilmiah yang berkembang selama ini.
                  Terkait penelitian, masyarakat Psikologi di Indonesia selayaknya
             memberikan perhatian pada kejadian yang menimpa Asosiasi
             Psikiatri Indonesia belum lama ini. Mereka mendapatkan sentilan dari
               Asosiasi Psikiatri Amerika Serikat terkait pernyataan mereka bahwa
             homoseksual merupakan masalah mental atau orang dengan masalah
             kejiwaan (ODMK), sedangkan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ)
             seperti transgender dapat diobati dengan terapi konversi (“ LGBT
             bukan”, 2016). Pihak  Asosiasi Psikiatri Amerika Serikat berargumen
             bahwa banyak hasil riset terkait  LGBT menunjukkan bahwa  LGBT
             bukanlah gangguan mental. Sementara pihak Himpunan Dokter
             Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia berargumen bahwa posisi dan
             pendapat mereka sudah sejalan dengan Undang-Undang Nomor 18
             tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa dan PPDGJ-III.
                  Pertanyaannya, bagaimana pendapat komunitas Psikologi
             Indonesia mengenai fenomena  LGBT? Terkadang diam itu memang
             emas, sebaliknya tahu kapan waktunya berbicara itu berlian. Saat
             ini masyarakat Indonesia sedang asyik-asyiknya menikmati produk
             teknologi yang dinamakan Internet. Portal berita semakin banyak,
             membangun situs Internet juga mudah dan murah, semua serba
             bisa mulai dari “bisa jadi benar” hingga “bisa-bisa malah salah”.
             Nampaknya ada satu item pertanyaan di luar 5W + 1H yang perlu
             ditinjau oleh editor dan penulis berita sebelum mempublikasikan
             karyanya, yaitu “What if” atau apa konsekuensinya jika berita yang
             entah  netral atau tidak itu dibaca oleh masyarakat.
                  Ada kecenderungan pada manusia untuk hanya mendengarkan
             apa yang ia inginkan dan sukai. Sebaliknya, yang tidak sesuai dengan
             yang diyakininya secara otomatis akan ia tolak mentah-mentah bahkan
             sekalipun itu merupakan fakta ilmiah. Gejolak sosial tidak akan dapat



                                                                                      439
   466   467   468   469   470   471   472   473   474   475   476