Page 472 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 472

PSIKOLOGI DAN TEKNOLOGI INFORMASI

            dihindari dan inilah tantangan Psikologi di Indonesia. Idealnya media
            hanya memberitakan informasi dari sumber terpercaya sedangkan
            sumber terpercaya itu pun menyampaikan informasi berdasarkan
            data dan fakta kepada media dengan tujuan mencerdaskan
            masyarakat. Namun mengingat bahwa faktor kekeluargaan begitu
            kental di Indonesia sedangkan media di zaman sekarang dimiliki
            oleh Si Ini atau Si Itu yang memiliki orientasi berbeda-beda dalam
            hal penyebaran informasi, maka idealisme di atas nampaknya harus
            dicapai dengan perjuangan yang berat.
                 Terkait kasus di atas kiranya Psikologi Indonesia tidak harus
            sepenuhnya diam namun juga tidak perlu ikut-ikutan unjuk gigi dengan
            menjadi ilmuwan dadakan melalui pernyataan ketidakberpihakan
            terhadap  LGBT. Kami memahami bahwa kasus  LGBT tidak mudah
            dipahami oleh masyarakat Indonesia dari segi ilmiah. Jika memang
            tidak siap atau tidak tahu bagaimana bersikap, memang lebih
            baik diam atau cukup memberikan pernyataan  netral, misal “Riset
            tentang  LGBT sejauh ini menunjukkan bahwa gen memiliki peranan
            (walaupun bukan satu-satunya pemeran) dalam orientasi seksual.
            Namun demikian, penelitian terkait kasus tersebut masih terus
            dilakukan hingga saat ini, sehingga kami belum bisa menyatakan
            secara tegas posisi kami atas fenomena ini”. Posisi tersebut kiranya
            lebih terhormat dan bijaksana daripada harus bersikap impulsif
            dengan akibat menjatuhkan martabat Psikologi Indonesia di mata
            dunia. Psikologi sebagai ilmu harus menjunjung tinggi kaidah
            ilmiah. Posisi demikian secara tidak langsung berdampak memberi
            kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk mencerna informasi
            sekaligus menunjukkan bahwa Psikologi Indonesia berbicara atas
            dasar penelitian ilmiah. Psikologi kita adalah Psikologi ilmiah, bukan
            lagi Psikologi purba yang berpretensi bisa menebak dalam arti
            menjustifi kasi sifat orang dari bentuk hidungnya.


            Penutup

                 Ke depan ilmu Psikologi yang konon menyatakan diri sebagai
            ilmu yang mempelajari perilaku dan proses mental, harus mampu
            menjadi garda depan dalam memetakan dan mengusulkan  intervensi
            atas isu-isu sosial yang sedang hangat. Psikologi harus bergerak




          440
   467   468   469   470   471   472   473   474   475   476   477