Page 465 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 465

Psikologi Abal-Abal di Era Digital

             kepribadian. “Ah, itu kan di luar negeri. Di Indonesia tidak ada berita
             seperti itu”, sergah Anda. Memangnya di Indonesia sudah ada badan
             yang bertugas mengawasi dan berhak mencabut publikasi yang
             terbukti merekayasa hasil penelitian?


             Didiklah, Jangan Hanya Bidiklah!

                  Ada ungkapan dalam bahasa Latin,  vox populi vox Dei yang berarti
             bahwa  suara rakyat adalah suara Tuhan. Ungkapan tersebut ingin
             menggambarkan cara kerja  demokrasi, yaitu rakyat sebagai pemberi
             perintah sedangkan Pemerintah sebagai pelaksananya. Permasalahan
             yang muncul dua tahun lalu adalah ketika  suara rakyat dibeli,
             sehingga tidak bisa dipastikan apakah  suara rakyat itu adalah suara
             Tuhan atau suara perut orang-orang yang berkepentingan. Seperti
             yang sudah disampaikan pada bagian pengantar, para pembaca selaku
             pengguna Internet mungkin bahkan tidak menyadari kalau suara
             mereka terbeli. Meminjam istilah forum  Kaskus yang populer dua
             tahun lalu, mereka mungkin sadar penuh dan sengaja menciptakan
             kondisi tidak kondusif dengan berprofesi sebagai pasukan nasi
             bungkus dan nasi kotak.
                  Jual beli  suara rakyat, entah disadari atau tidak, terjadi tepatnya
             ketika Pemilihan Presiden 2014 yang lalu. Kala itu sedang ramai-
             ramainya terjadi kampanye hitam melalui berbagai macam media.
             Parahnya, sejarah yang sama nampaknya sedang berulang dalam
             kasus Pilkada DKI dengan masih diangkatnya kata kunci dan
             kemasan isu yang sama, yaitu SARA atau suku, agama, ras, dan
             antar golongan.
                  Pola pikir masyarakat era tahun ’80-an dan ‘90-an yang
             memandang pemberitaan di media sebagai sesuatu yang benar
             nampaknya masih terpateri sempurna hingga sekarang. Pengguna
             telepon seluler yang polos dan baru kenal Internet atau  Facebook
             cenderung langsung percaya pada informasi atau pemberitaan yang
             ada. Permasalahannya, kini tidak hanya tersedia satu portal media
             seperti dulu, yaitu TVRI, sehingga pengaburan informasi mudah
             dilakukan.
                  Selain jumlahnya yang tidak hanya satu, kini media juga
             cenderung tendensius dan mewakili suara pihak-pihak tertentu.




                                                                                      433
   460   461   462   463   464   465   466   467   468   469   470