Page 365 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 365

Dinamika Pemilihan dan Penolakan Informasi  Pornografi
                                                           di Kalangan Remaja DKI Jakarta

             dengan 1.705 responden remaja memperoleh hasil yang menegaskan
             bahwa 80% responden telah mengakses materi pornografi   melalui
             situs internet saat sedang mencari bahan pelajaran untuk memenuhi
             tugas sekolah.Adapun hasil penelitian Yayasan Kusuma Buana dan
             BKKBN  (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional)
             mengenai  kesehatan reproduksi di 12 kota di Indonesia mendapatkan
             bahwa remaja mendapatkan informasi tentang seks melalui bacaan
             dan fi lm porno. Dari 3954 responden sekitar 59% remaja laki-laki dan
             28% remaja perempuan mengatakan pernah membaca buku porno.
             Bahan bacaan porno juga merupakan sumber informasi seks bagi
             49% remaja laki-laki dan 16% remaja perempuan (BKKBN, 2004).
                  Lebih lanjut, hasil penelitian Supriati dan Fikawati (2009) juga
             menunjukkan bahwa pornografi  dapat dengan mudah diakses,
             khususnya lewat media elektronik seperti internet melalui jaringan
             Google, Yahoo,  YouTube maupun tayangan melalui televisi, fi lm maupun
             video. Akibatnya, remaja pada umumnya kerap menempatkan media
             sebagai sumber informasi seksual yang lebih penting dibandingkan
             orang tua dan teman sebaya, karena media lebih dapat ’memenuhi’
             keinginan dan kebutuhan seksualitas remaja.
                  Menurut sebuah penelitian tentang konsumsi informasi yang
             pernah dilakukan oleh tim periset Universitas California San Diego
             (UCSD) sepanjang tahun 2009 total informasi yang membanjiri
             rumah tangga di AS mencapai 3,6  zettabyte (3,6 triliun  gigabyte/
             GB), atau 34 gigabyte per-orang setiap hari. Informasi dalam bentuk
             teks, gambar, suara, dan audiovisual ini diterima melalui TV, radio,
             koran, tabloid, buku, majalah, internet hingga  jejaring sosial, seperti
             facebook  dan  twitter (“All too much”, 2010). Bila melihat posisi
             Indonesia yang masuk 10 besar negara pengguna facebook dan twitter
             terbesar di dunia, sangat mungkin bila total informasi yang diterima
             rumah tangga di Indonesia akan mengikuti pola konsumsi informasi
             rumah tangga di AS (http://www.antaranews.com/berita/317451/
             pengguna-facebook-di-indonesia-tertinggi-ketiga-dunia,             diakses
             tanggal 5 Juni 2012).
                  Keberlimpahan komunikasi  (communication abundance) atau
             tumpah ruah komunikasi ( cornucopias of communication) menjadikan
             individu memiliki banyak peluang untuk melakukan pilihan dan
             penolakan terhadap informasi yang ada sesuai dengan kognisi diri.



                                                                                      333
   360   361   362   363   364   365   366   367   368   369   370