Page 364 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 364
PSIKOLOGI DAN TEKNOLOGI INFORMASI
pengakses materi pornografi terbesar adalah remaja, yang merupakan
generasi muda bangsa.
Keprihatinan muncul seiring dengan efek pornografi terhadap
pengguna maupun orang-orang yang dicintai oleh si pengguna. Bagi
pengguna, pornografi memiliki efek samping negatif yang serius.
Pornografi mengakibatkan kerusakan pada lima bagian otak, terutama
pada pre frontal cortex (bagian otak yang tepat berada di belakang dahi
ß otak logika). Akibatnya bagian otak yang bertanggung jawab untuk
logika akan mengalami cacat karena hiperstimulasi tanpa fi lter (otak
hanya mencari kesenangan tanpa adanya konsekuensi). Rusaknya
otak akan mengakibatkan korban mudah mengalami kebosanan,
merasa sendiri, marah, tertekan dan lelah. Selain itu, dampak yang
paling mengkhawatirkan adalah penurunan prestasi akademik dan
kemampuan belajar, serta berkurangnya kemampuan pengambilan
keputusan (Risman, 2015).
Pornografi juga berpotensi meningkatkan perilaku seks pranikah
di kalangan remaja, yang berimbas pada munculnya kasus kehamilan
tidak dikehendaki (KTD), dan tindakan aborsi yang kerap dianggap
sebagai sebuah solusi permasalahan KTD. Tindakan aborsi sangat
berisiko tinggi terhadap kesehatan reproduksi. Komplikasi yang
dialami akibat aborsi dapat menyebabkan pendarahan hebat, infeksi
dan keracunan dari bahan yang digunakan untuk pengguguran
kandungan, kerusakan pada alat kemaluan serta kerusakan permanen
pada organ reproduksi yang lebih jauh dapat mengakibatkan
infertilitas atau bahkan kematian.Selain KTD, perilaku seks pranikah
juga rawan dan dapat memicu berbagai masalah sosial lainnya seperti
kehamilan usia muda, infeksi penyakit menular seksual (PMS), HIV/
AIDS, kanker serviks.
Dari hasil penelitian Murti (2008) pada remaja disalah satu SMU
swasta di Jakarta Selatan diketahui bahwa proporsi pemaparan
pornografi melalui media cetak adalah sebesar 32,7% dengan
frekuensi tinggi dan 67,3% siswa termasuk kedalam frekuensi rendah.
Sedangkan untuk proporsi pemaparan siswa terhadap pornografi
melalui media elektronik adalah sebesar 50,7% termasuk frekuensi
tinggi dan 49,3% termasuk frekuensi rendah.
Survei yang dilakukan oleh Yayasan Kita dan Buah Hati di
Jabodetabek (singkatan dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi)
332

