Page 252 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 252
PSIKOLOGI DAN TEKNOLOGI INFORMASI
yang resilien (Duncan, et al., 2005; Reich, 2009; Simuforosa, 2013;
Przybylski, et al., 2014). Penyediaan lingkungan positif ini dapat
mencakup upaya membangun atmosfer interaksi yang terbuka dalam
keluarga, sehingga orangtua dan anak dapat berdiskusi secara
leluasa untuk. Dalam relasi yang terbuka anak tidak akan canggung
mengkomunikasikan kepada orang tua segala sesuatu yang ditemui
dalam aktivitas online. Lingkungan positif juga mencakup penyediaan
contoh-contoh berperilaku yang tepat sebagaimana diharapkan dapat
dilakukan oleh anak, seperti mengelola waktu yang seimbang antara
kesibukan menggunakan teknologi digital dan aktivitas sosial yang
lain, memilih berbagai konten positif, merespon secara tepat berbagai
informasi yang bermuatan negatif, dan berkomunikasi secara terbuka
untuk membangun kebiasaan diskusi yang konstruktif di lingkungan
sekitar.
Keempat, proses menumbuhkan online resilience pada anak
tidak akan lepas dari unsur-unsur utama dalam pengasuhan itu
sendiri, yaitu keseimbangan antara bagaimana orangtua menerapkan
kontrol dan memberikan dukungan serta penerimaan terhadap
segala sesuatu yang ada dalam diri anak maupun hal-hal positif
yang berhasil dicapai atau ditunjukkan oleh anak (Santrock, 2007).
Proses ini mengandung pemaknaan yang luas sehingga orangtua
harus jeli dalam menerapkannya. Pemberian fasilitas teknologi digital
merupakan salah satu bentuk dukungan orangtua bagi aktivitas
belajar anak. Namun menyeimbangkannya dengan kemampuan yang
baik dalam mengelola penggunaan fasilitas tersebut adalah langkah
kontrol yang perlu dilakukan. Selanjutnya, langkah orangtua untuk
secara konsisten mendampingi anak dalam menguasai koping yang
efektif terhadap berbagai konten yang ditemui dalam dunia online
merupakan bentuk kontrol yang lain. Kontrol tersebut akan semakin
membawa hasil manakala orangtua mau memberikan apresiasi
terhadap segala usaha belajar yang telah dilakukan oleh anak
sebagai bentuk dukungan dan penerimaan yang lain, sehingga anak
termotivasi untuk terus menerapkan berbagai koping positif yang
telah dipelajari karena merasa bahwa usahanya dihargai.
Menutup uraian ini, para ahli perkembangan kerap mengingatkan
bahwa dari sekian banyak problem perilaku yang muncul pada anak
dalam berbagai konteks, setelah ditelusuri ternyata berakar pada
220

