Page 249 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 249
Menumbuhkan Online Resilience pada Anak:
Tantangan dalam Pengasuhan di Era Teknologi Digital
Online Resilience
Istilah online resilience digunakan untuk menjelaskan konsep
resiliensi dalam dunia online. Resiliensi merupakan kapasitas seseo-
rang untuk mampu berfungsi secara kompeten dalam menghadapi
stresor dan menyikapi berbagai situasi di lingkungan yang
mendatangkan risiko (VanBreda, 2001). Dunia online adalah lingkup
aktivitas dalam memanfaatkan teknologi digital, menghubungkan
individu dengan pihak-pihak lain di berbagai tempat melalui akses
yang mudah, untuk berbagai kepentingan (Przybylski, Mishkin,
Sholtbolt, dan Linington, 2014).
Przybylski, et al. (2014) mendefi nisikan online resilience sebagai
cara individu bertahan dalam menghadapi situasi yang sulit, berbahaya
dan berisiko dalam dunia online. Online resilience merupakan kemam-
puan individu untuk beradaptasi secara akurat terhadap berbagai
kondisi lingkungan yang sarat akan pengaruh, sehingga dengan
kemampuan ini individu akan lebih berdaya dalam menyaring dan
merespon berbagai hal yang ditemui ketika berinteraksi dengan
teknologi digital. Secara lebih ringkas, d’Haenens, Vandoninck, dan
Danoso (2013) menyebut online resilience sebagai kemampuan untuk
menghadapi pengalaman negatif dalam aktivitas online. Anak yang
resilien mampu mengatasi situasi yang merugikan dengan cara-
cara yang terfokus pada masalah (problem-focused), serta mampu
mentransfer emosi negatif menjadi positif, atau menetralkannya.
Resiliensi bukanlah trait yang bersifat statis, dimiliki oleh
seseorang sejak lahir atau secara otomatis bertahan dalam diri
seseorang setelah sekali ia berhasil mencapainya (Meichenbaum,
2008). Resiliensi merupakan proses dinamis, mencakup adaptasi
positif dalam konteks situasi yang menantang, mengandung bahaya
maupun hambatan signifi kan dan dapat berubah sejalan dengan
waktu serta lingkungan yang berbeda (Luthar, Chicchetti, & Becker,
2000; Cicchetti & Toth, 1998, dalam Kalil, 2003). Resiliensi adalah
proses interaktif yang kompleks, melibatkan berbagai karakteristik
individu, keluarga, maupun lingkungan masyarakat yang lebih luas
(Meichenbaum, 2008).
Reich (2009) serta Duncan, Bowden, dan Smith (2005) menyatakan
bahwa keluarga sebagai mikrosistem dan sebagai lingkungan utama
dalam perkembangan individu memiliki kontribusi besar terhadap
217

