Page 251 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 251
Menumbuhkan Online Resilience pada Anak:
Tantangan dalam Pengasuhan di Era Teknologi Digital
anak, termasuk online resilience yang penting dimiliki saat ini.
Menindaklanjuti tantangan yang ada, beberapa catatan berikut
tampaknya perlu dipahami oleh para orangtua dalam menerapkan
pengasuhan secara efektif. Pertama, resiliensi berjalan beriringan
dengan berbagai risiko yang dihadapi oleh anak dalam aktivitas yang
dilakukan (d’Haenens, et al., 2013). Sebagai sebuah kemampuan,
resiliensi hanya dapat berkembang melalui paparan risiko yang
menuntut anak untuk mempelajari berbagai langkah tepat untuk
mengatasinya. Berarti, menumbuhkan online resilience pada anak
tidak akan dapat dilakukan dengan cara mensterilkan anak agar sama
sekali terhindar dari kontak dengan teknologi digital. Menjauhkan
anak dari risiko hanya akan melebarkan jarak dengan lingkungan
sosialnya. Jika suatu saat di luar kendali orangtua ternyata anak
bersentuhan dengan teknologi digital, keingintahuannya yang
tertahan sedemikian besar justru akan semakin sulit dikelola, lebih-
lebih jika ia tidak mendapatkan cukup informasi tentang seluk beluk
hal yang menarik perhatiannya tersebut.
Kedua, koping yang efektif adalah kunci dari resiliensi (VanBreda,
2001; Kalil, 2003). Memfasilitasi anak untuk belajar tentang berbagai
macam koping yang tepat manakala bertemu dengan risiko ketika
beraktivitas dengan teknologi digital adalah langkah kunci untuk
membangun online resilience. Berdasarkan riset yang dilakukan di
25 negara Eropa, d’Haenens, et al. (2013) menyimpulkan adanya
tiga tipe koping yang dimunculkan anak ketika bertemu dengan
konten berisiko saat melakukan aktivitas online, yaitu: (1) passive
coping; (2) communicative coping; dan (3) proactive coping. Diantara
ketiga cara koping tersebut, orangtua perlu mengarahkan anak agar
mampu menguasai koping komunikatif dan proaktif sesuai tahap
perkembangannya. Koping komunikatif bisa dilakukan dengan cara
yang sederhana, yaitu mengkomunikasikan kepada orang tua segala
sesuatu yang ditemui dalam interaksi dengan teknologi digital. Koping
proaktif bisa dilakukan antara lain dengan secara aktif menghapus
informasi-informasi yang memuat konten negatif dan mengisolasi
atau menghindari kontak dengan pengirim-pengirim informasi yang
negatif.
Ketiga, penyediaan lingkungan tumbuh kembang yang positif
sangat diperlukan dalam proses belajar anak menjadi individu
219

