Page 473 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 473
Psikologi Abal-Abal di Era Digital
maju bersama masyarakat, bukan malah asyik bersembunyi dalam
selimut pengetahuan tradisonal dan mengajarkan sejarah usang
pada mahasiswanya. Di Barat penelitian interdisipliner semakin
berkembang. Era big data mulai datang. Psikologi bisa menggandeng
para computer engineer dan ahli informasi lainnya untuk menyerap
data dari media sosial dan memetakan perilaku manusia atau
mengembangkan sistem kecerdasan buatan ( artifi cial intelligence).
Psikologi juga bisa menggandeng sosiologi untuk pengembangan
komunitas (community development) dan memberdayakan
masyarakat melalui intervensi social atau menggandeng ilmu politik
dan komunikasi untuk mendukung interaksi antara Pemerintah dan
rakyat yang lebih efektif.
Marilah kita hentikan aneka pembodohan berkedok Psikologi
seperti membaca kepribadian seseorang melalui bentuk tangan, bentuk
hidung, bentuk jempol, dan bentuk anggota badan lainnya. Hidup kita
terlampau kompleks untuk sekadar dikendalikan jempol—kecuali
kalau kita berprofesi sebagai model mungkin bentuk hidung akan
mempengaruhi pemasukan fi nansial kita. Mana mungkin seluruh
nasib kita ditentukan oleh jempol. Marilah kita hentikan penyebaran
informasi HOAX yang tidak berbobot. Masyarakat harus diedukasi,
bukan ditipu oleh berita-berita sensasional yang tidak masuk akal.
Dengan dukungan Pemerintah melalui program beasiswa luar
negeri bagi pelajar Indonesia, kita akan memiliki sumber daya yang
cukup untuk mewujudkan masyarakat yang lebih bermartabat.
Tulisan ini berusaha meninjau dampak negatif dari perkembangan
Internet agar dapat menjadi bahan pertimbangan dan evaluasi bagi
Pemerintah, pembuat kebijakan, pemangku kepentingan (stakeholder),
serta para pembaca dan masyarakat dunia maya. Kita berharap agar
Internet sebagai dunia maya dapat menjadi tempat yang ramah untuk
mencari ilmu, memperkaya pengetahuan, dan meningkatkan kualitas
kecerdasan rakyat Indonesia. Salam Internet sehat, salam Internet
positif!
441

