Page 439 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 439
Inklusi dan Aksesibilitas: Jalan untuk Kembali Menjadi Manusia Seutuhnya
bisa diraba. Akibatnya, seseorang yang tidak memiliki penglihatan
bisa merasa kurang percaya diri karena tidak bisa menggunakan
ponsel yang lebih populer pada saat itu. Individu yang bersangkutan
juga akan merasa tersisihkan karena tidak bisa bersosialisasi melalui
media sosial atau aplikasi berbasis pesan seperti Whatsapp atau Line.
Namun, kini telah berkembang teknologi pembaca layar atau yang
lebih dikenal dengan istilah screen reader program, yang memiliki
kemampuan untuk mengonversi tulisan menjadi suara. Dengan
tuntunan suara tersebut, tunanetra mampu membaca tulisan yang
tertera pada layar dan mengoperasikan ponselnya. Dikembangkannya
aplikasi pembaca layar pada ponsel-ponsel tersebut telah
“mengembalikan” kemampuan tunanetra untuk dapat membaca
maupun meraba.Dalam kasus ini, individu yang bersangkutan tetap
tidak bisa melihat, namun ia mendapatkan kembali kemampuannya
untuk membaca dengan cara mendengarkan.
Seseorang yang mengalami serebral palsi biasanya terlalu
lemah untuk dapat mengayuh kursi rodanya sendiri. Ia menjadi
bergantung kepada orang lain yang mau mendorong kursi rodanya.
Mobilitasnya pun menjadi terhambat, tergantung pada aktivitas
sang pendorong yang sering kali mempunyai kesibukan lain. Namun
ketika ia menggunakan kursi roda yang digerakkan oleh motor listrik,
kemandiriannya menjadi meningkat. Secara fi sik, individu tersebut
tetap tidak bisa berjalan karena kakinya yang tidak berfungsi dengan
baik, namun modifi kasi pada kursi rodanya membuat seakan-akan ia
dapat kembali berjalan, karena sekarang ia mampu berpindah lokasi
tanpa harus bergantung pada orang lain.
Assistive Devices dan Penyandang Disabilitas:
Pendekatan Psikologis
Salah satu ahli psikologi terkemuka, Abraham Maslow (1943)
menyatakan bahwa individu akan tergerak untuk melakukan sesuatu
guna memenuhi kebutuhannya. Hal ini dapat dirangkum dalam teori
pemenuhan hierarkhi kebutuhan (1943, 1954). Maslow mengatakan
bahwa ketika kebutuhan pada satu tingkatan sudah terpenuhi, maka
individu itu dapat naik pada tingkatan kebutuhan yang berikutnya.
Namun jika kebutuhan pada suatu tingkatan tidak terpenuhi, maka
407

