Page 441 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 441

Inklusi dan Aksesibilitas: Jalan untuk Kembali Menjadi Manusia Seutuhnya

                  Jika dihubungkan dengan konsep  assistive devices dan fungsinya
             bagi penyandang  disabilitas, maka pada dasarnya teknologi diciptakan
             untuk membantu kehidupan manusia. Namun, terdapat sedikit
             perbedaan antara teknologi secara umum dan teknologi  assistive
             devices. Teknologi alat bantu secara khusus membantu seseorang
             dengan  disabilitas untuk berpartisipasi sebagai anggota masyarakat
             seutuhnya. Kemajuan teknologi alat bantu telah memberikan
             pemberdayaan yang lebih baik untuk peningkatan kualitas hidup
             individu dengan  disabilitas (Sachdeva & Reima, n.d.). Menurut
             Hers (dalam McDonnall & Crudden, 2009), teknologi alat bantu
             bisa digunakan untuk mengatasi masalah sosial, infrastruktur,
             dan hambatan lain yang dialami penyandang  disabilitas dan yang
             menghalangi mereka untuk berpartisipasi dalam segala hal. Car,
             Gibson dan Roinson (dalam McDonnall & Crudden. 2009) juga
             berpendapat sama dan menyatakan bahwa teknologi alat bantu
             membuat orang untuk melanjutkan kesehariannya dan memenuhi
             harapan hidup, walaupun mereka memiliki gangguan dan  disabilitas.
                  Dalam pendidikan, kurangnya kemandirian dalam belajar
             merupakan keluhan utama terkait kegiatan belajar-mengajar di
             sekolah. Padahal, kemandirian merupakan potensi yang sangat
             penting bagi siswa, terutama siswa dengan  disabilitas. Siswa harus
             belajar untuk mandiri, karena tidak selamanya relawan atau guru akan
             mendampinginya. Apalagi ketersediaan relawan dan guru pendamping
             juga terbatas. Oleh karena itu, kemandirian sangat dibutuhkan bagi
             siswa dengan  disabilitas, sehingga tidak lagi bergantung penuh pada
             relawan dalam belajar (Suwanto, 2012). Menurut Stodde, disinilah
             teknologi alat bantu menjadi hal yang penting untuk dikuasai oleh
             siswa dan disediakan oleh sekolah. Ketika siswa sudah dimandirikan,
             maka rasa percaya diri akademiknya cenderung akan meningkat. Rasa
             percaya diri ini kemudian akan membantunya untuk menghasilkan
             prestasi akademik yang lebih baik lagi (Suwanto, 2012).
                  Sebagai penyandang  tunanetra total, rekan saya banyak
             terbantukan oleh teknologi alat bantu untuk menentukan orientasi
             arah dengan baik, melakukan mobilisasi, pengumpulan informasi,
             inklusi sosial, dan pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup.
             Berdasarkan teori  social embarrassment  (McDonnall & Crudden,
             2009),  penyandang tunanetra memiliki kecenderungan lebih suka



                                                                                      409
   436   437   438   439   440   441   442   443   444   445   446