Page 52 - index
P. 52
SOSIOLOGI: TEKS PENGANTAR DAN TERAPAN
dirinya menjadi siapa pun, tanpa harus terikat dengan kondisi riil dirinya.
Seorang lelaki iseng, playboy yang suka mempermainkan perempuan,
melalui facebook bukan tidak mungkin merepresentasikan dirinya
sebagai sosok yang santun, penuh perhatian, dan jauh dari kesan yang
menjengkelkan. Di dunia maya, yang namanya identitas merupakan
sebuah bentukan citra, dan oleh karena itu yang penting di sini yaitu
image, konstruksi, dan sejauh mana lawan ia berinteraksi dapat dikecoh
atau terkecoh.
J. DILEMA
Bagi seorang anak perempuan yang sehari-hari dibesarkan dalam ke-
luarga yang broken home atau ber-masalah, apalagi menjadi korban child
PRENADAMEDIA GROUP
abuse, maka berselancar di dunia maya untuk mencari teman chatting
bukan hanya menjadi alternatif kegiatan pelarian yang mengasyikkan,
tetapi lebih dari itu juga menjadi kegiatan untuk untuk mencari sosok-
sosok idola subtitutif yang ideal.
Seorang anak yang di dunia nyata memiliki ayah yang ringan tangan
suka main pukul, biasanya dengan mudah akan terpedaya oleh kenal-
annya di dunia maya yang pandai menghibur, penuh perhatian, dan
terkesan sabar. Seorang anak gadis yang lugu, niscaya dengan mudah
jatuh cinta pada cowok yang lewat facebook tampak penuh perhatian
dan bisa menjadi teman curhat yang mengasyikkan. Padahal, siapa bisa
menduga, apa sebetulnya motif pertemanan dan kencan yang mereka
jalin hanya lewat jalur facebook itu?
Di dalam ruang publik cyberspace, kita tahu bahwa yang namanya
realitas dapat dikonstruksi atau direkayasa sekehendak hati orang yang
berkepentingan, sesuai dengan tujuan, misi, dan ideologi yang melan-
dasinya. Di dalam dunia maya, dikatakan Jean Baudrillard bahwa yang
terjadi ialah munculnya perilaku dan kecabulan informasi (obsity of in-
formation), di mana setiap orang bisa mengetahui seluruh rahasia orang
lain, tanpa perlu harus minta izin atau terlebih dahulu bertemu dengan
orang itu (Piliang, 2004: 69-70). Tetapi terlepas dari berbagai efek sam-
ping yang timbul, tampaknya yang kurang diabaikan para penulis dalam
buku Communities in Cyberspace ialah bagaimana memahami meluasnya
akses masyarakat pada jejaring komputer atau internet, sebagai bagian
dari perkembangan gaya hidup masyarakat pasca-industri layaknya ka-
jian dan analisis teoritik yang dilakukan dari perspektif cultural studies.
Lebih dari sekadar perkembangan teknologi dan kaitannya dengan
perubahan pola hubungan sosial masyarakat di dunia virtual, kehadiran
internet dan munculnya berbagai situs di dunia maya pada dasarnya ya-
366

