Page 392 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 392

PSIKOLOGI DAN TEKNOLOGI INFORMASI

                 Dari beberapa perspektif teori tentang alasan orang menolong
            sebagaimana dipaparkan di atas, teori empati kiranya memberikan
            kontribusi yang cukup besar bagi terjadinya perilaku menolong di
              media sosial. Fenomena pemberian dukungan kepada pihak yang
            dipandang sedang mengalami musibah atau menjadi korban melaui
              media sosial sesungguhnya merupakan perwujudan rasa empati
            masyarakat. Empati dapat menggerakkan hati dan selanjutnya
            mendorong munculnya perilaku menolong, sebab    empati merupakan
            kemampuan merasakan keadaan emosi, merasa simpati, dan mencoba
            ikut menyelesaikan masalah dengan mengambil perspektif orang lain
            (Baron & Byrne, 2005). Sebagai makhluk yang diciptakan untuk saling
            mengenal satu dengan yang lainnya, manusia tidak bisa hidup sendiri.
            Manusia adalah makhluk yang saling membutuhkan. Ketika orang
            lain sedang mengalami kesulitan atau kesusahan, sebagai makhluk
            yang diciptakan dengan nurani secara sadar hati kita tersentuh
            untuk bisa membantu  mereka yang membutuhkan bantuan kita.
            Hati masyarakat yang terketuk seperti pada kasus Prita Mulyasari
            atau Alma adalah tanda bahwa masyarakat masih memiliki empati.
            Melalui empati secara khayalan seolah-olah masyarakat mencoba
            merasakan ide, pikiran, perasaan dan penderitaan yang dirasakan
            si korban. Dengan kata lain, melalui empati seolah-olah masyarakat
            sendiri mengalami menjadi korban yang sedang menderita, sakit,
            terkena musibah dan tidak beruntung dalam hidup. Empati yang
            sudah tumbuh dan berkembang di masyarakat tersebut selanjutnya
            mengalirkan dukungan dari berbagai kelompok dan kelas sosial yang
            bersifat meluas, mendalam dan tidak sebatas pernyataan belaka
            melainkan diwujudkan dalam bentuk perilaku prososial nyata berupa
            pengumpulan dana, ikut mencari atau bentuk bantuan lain sesuai
            kemampuan dan kapasitas masing-masing.
                   Salah satu cara efektif dan efi sien untuk menggerakkan
            orang dari berbagai kelompok dan kelas sosial agar memberikan
            bantuan kepada pihak yang memerlukan adalah dengan penggunaan
              media sosial, sebab hampir setiap orang memiliki perangkat itu
            di tangan. Media sosial dengan jaringan paling lambat sekalipun
            tidak memerlukan biaya besar untuk memilikinya, dapat dilakukan
            sendiri tanpa bantuan orang lain untuk mengoperasikannya, dan
            yang terpenting dapat dilakukan dimana saja. Media sosial memberi



          360
   387   388   389   390   391   392   393   394   395   396   397