Page 375 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 375
Dinamika Pemilihan dan Penolakan Informasi Pornografi
di Kalangan Remaja DKI Jakarta
informasi tentang pornografi , walaupun mungkin informasi tersebut
bertentangan dengan keyakinan (belief) yang dimiliki.
Di sisi lain, pemilihan informasijuga dipengaruhi oleh loyalitas
terhadap kelompok sosial.Semakin seseorang memiliki loyalitas
terhadap kelompok sosial maka akan semakin efektif perilaku
komunikasi yang ditampilkan sesuai dengan norma-norma kelompok
yang berlaku.
Dalam kasus pornografi , individu akan memilih informasi tentang
pornografi jika mendapat dukungan dari orang-orang terdekat
( kelompok primer). Dan sebaliknya,akan menyatakan penolakan
terhadap informasi tentang pornografi jika tidak mendapatkan
dukungan dari kelompok primer. Dalam hal ini terlihat bahwa
dukungan kelompok memengaruhi pilihan dan penolakan informasi
tentang pornografi . Adanya pilihan maupun penolakan yang didasari
pada dukungan kelompok merupakan upaya individu untuk mencapai
keseimbangan dengan lingkungan sosial. Karena penyimpangan dari
kelompok biasanya kerap akan menimbulkan sanksi,baik sosial/
moral hingga sanksi hukum.
Penutup
Pornografi yang gencar dipublikasikan melalui berbagai macam
bentuk media komunikasi pada akhirnya akan menimbulkan efek
media. Efek media ini akan tergantung pada realita yang ada (misal:
kelompok sebaya). Apabila realita sesuai dengan keyakinan (belief)
yang dimiliki seseorang yaitu melarang ataupun menolak pornografi
maka keyakinan (belief) tidak akan berubah. Namun sebaliknya,
manakala realita tidak menabukan pornografi sementara keyakinan
(belief) melarang pornografi , maka keyakinan (belief) bisa berubah.
Perubahan keyakinan (belief) tergantung seberapa erat hubungan
interaksi antara individu dengan realita yang ada. Semakin erat
hubungan maka semakin cepat perubahan keyakinan (belief)
dilakukan, dan sebaliknya. Perubahan yang dilakukan merupakan
perwujudan upaya pencapaian keseimbangan kognitif.
Komunikasi pada konteks pemilihan dan penolakan informasi
tentang pornografi terbagi dalam tiga tataran. Pertama, tataran
intrapersonal. Pada tataran ini individu akan berpegang pada keyakinan
343

