Page 265 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 265

Online Shopping pada Mahasiswa: Belanja di Persimpangan Jalan

             berbelanja  online  merupakan cara yang lebih menjanjikan dalam
             rangka memenuhi kebutuhan hidup. Kemudahan akses, kelengkapan
             jenis barang yang ditawarkan sampai dengan  fl eksibilitas  metode
             pembayarannya, serta daya tarik yang muncul melalui  display
             produknya, mendorong mahasiswa lebih memilih berbelanja online,
             terlepas dari kekurangan yang menyertai model belanja ini. Melalui
             belanja online seolah-olah semua barang tersedia dalam genggaman.
             Tinggal “klik” dan produk yang dikehendaki pun akan tersedia.
                  Konsumen percaya bahwa berbelanja online adalah cara belanja
             yang aman dan praktis. Mereka menaruh kepercayaan yang besar
             terhadap penyedia situs belanja online. Apalagi jika dalam beberapa
             kali pembelian konsumen merasa puas dengan layanan penjual,
             maka ia akan mengulang-ulang perilaku membelinya, bahkan
             terkadang berusaha mencari-cari barang yang sebenarnya tidak
             dibutuhkan. Semula mungkin tidak ada niat untuk membeli, tetapi
             karena menaruh kepercayaan yang besar dan merasa aman serta
             puas sekaligus didorong oleh keinginan (bukan kebutuhan),  maka
             perilaku membeli berulang pun terjadi.
                  Bagaimana dengan online shoppers yang konsumtif? Berawal dari
             keinginan besar, kebutuhan “mendadak”, kepercayaan, dan kepuasan
             pada layanan situs belanja  online maka terbukalah kemungkinan
             munculnya perilaku berbelanja berlebihan tanpa pertimbangan.
             Hal ini berdampak besar pada perilaku lanjutannya. Pemborosan,
             konsumtif, menjadi  “shopping mania” pun berubah menjadi gaya
             hidup. Konsumen rela melakukan apa saja demi nafsu berbelanjanya,
             demi mendapatkan barang yang diinginkan. Hal ini tentu juga
             dipengaruhi oleh faktor diri si pebelanja. Perilaku konsumtifnya akan
             semakin subur jika konsumen ini menikmati berbelanja. Artinya, jika
             ada shopping enjoyment, maka perilaku konsumtif pun menjadi hal
             yang wajar.
                  Perilaku belanja  online yang berlebihan bahkan “kebablasan”
             yang dilakukan mahasiswa tentu mendatangkan keprihatinan. Apa
             yang seharusnya dilakukan? Media internet jelas tidak mungkin
             dihilangkan karena  sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Menutup
             situs belanja juga tidak mudah karena belum ditemukan cukup
             alasan  untuk melakukannya. Bagaimana dengan perguruan tinggi?
             Perguruan tinggi akan sulit menghalangi perilaku berbelanja online



                                                                                      233
   260   261   262   263   264   265   266   267   268   269   270