Page 32 - index
P. 32
20 Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme
perilaku konsumsi sinergistik maupun memenuhi hasratnya untuk membeli
berbagai bacaan, serta mengembangkan perilaku membaca yang adiktif.
Dalam kerangka teori, telah dikemukakan bahwa untuk memahami
perilaku membaca untuk kesenangan di kalangan remaja urban dari
perspektif Cultural Studies berarti mencoba memahami teks ini dalam konteks
perkembangan industri budaya kapitalistik yang tidak hanya berbicara soal
bacaan saja, tetapi juga berikut berbagai produk budaya lain yang terkait,
antara lain fi lm, kostum, merchandise, atau produk budaya yang lain, yang
mana ini semua seringkali membutuhkan dukungan dana yang tidak
sedikit (lihat: Storey, 2007; Strinati, 2007). Kendati tidak menyangkal bahwa
remaja dari golongan menengah ke bawah pun juga sebagian di antaranya
termasuk gemar membaca, tetapi limitasi pada studi ini sengaja hanya
membatasi pada remaja dari kalangan menengah ke atas, yang diasumsikan
lebih memiliki keleluasaan untuk mengembangkan perilaku konsumtif dan
gaya hidup masyarakat modern yang memang relatif mahal.
Wawancara mendalam terhadap seluruh informan dilakukan masing-
masing antara 2-3 kali pertemuan. Wawancara dengan 10 informan kunci,
selain dilakukan di toko buku atau kios buku saat pertama kali bertemu,
juga dilakukan sesudahnya di hari libur sekolah, di rumah informan atau
rumah teman informan yang bersangkutan dengan tujuan benar-benar
memperoleh data yang mendalam dan lengkap. Demikian juga wawancara
dengan informan yang lain yang merupakan anggota peer-group informan
kunci, juga dilakukan lebih dari sekali, karena studi ini benar-benar
membutuhkan data yang lengkap, sekaligus contoh bacaan yang digemari
informan yang bersangkutan. Secara umum tidak ada kesulitan yang
berarti selama proses wawancara dilakukan. Bahkan, ada kesan informan-
informan yang diwawancarai justru sangat antusias menceritakan berbagai
bacaan yang digemari, kapan mereka membaca, dari mana asal bacaan itu
diperoleh, alasan mereka menyukai sebuah bacaan, apa maknanya bagi
mereka, termasuk format serta unsur-unsur dalam bacaan yang membuat
mereka kecanduan membaca.
Kedua, melakukan FGD yang melibatkan sejumlah remaja yang
memiliki kebiasaan dan perilaku membaca yang menyenangkan. Dalam
studi ini, FGD telah dilakukan sebanyak 2 kali dengan masing-masing sesi
dihadiri 7 dan 10 orang remaja urban yang semuanya dipilih dari informan

