Page 45 - index
P. 45

Bab 21: Netnografi dan Studi tentang Komunitas Cyberspace


                           dan tindakan orang—membutuhkan keahlian ahli etnografi yang berbeda
                           untuk memahami dan menganalisisnya. Keempat, etnografi internet
                           yang ada cenderung mengistimewakan fenomena berbasis teks dengan
                           mengabaikan fenomena visual. Kelima, penggunaan suara dan pergerakan
                           dalam situs web sedang dianalisis dalam studi-studi etnografi online.
                               Di kalangan sebagian ahli etnografi virtual, untuk dapat memperoleh
                           data yang dibutuhkan dalam komunitas online memang dalam kasus-
                           kasus tertentu dapat dilakukan dengan cara menjadi “pengintip”
                           dalam komunitas online. Tetapi, dalam pandangan ahli etnografi lain,
                           “mengintip” sebetulnya adalah proses satu arah, padahal salah satu
                           kekuatan para peneliti etnografi adalah penekannya pada dialog bersama
                                    PRENADAMEDIA GROUP
                           subjek. Dalam studi yang dilakukan ahli etnografi di komunitas online,
                           menurut Garcia et al. (2009) bagaimanapun akan lebih lengkap jika
                           dikembangkan pula observasi dan wawancara mendalam, yang bersifat
                           dialogis kepada komunitas offline. Observasi partisipan offline diyakini
                           akan dapat memperkuat studi yang dilakukan ahli etnografi online, dan
                           memperlihatkan bagaimana hubungan jaringan dan koneksi lain dalam
                           komunitas dibentuk atau dipengaruhi oleh dimensi online mereka.
                               Di dalam riset etnografi  online, data yang digali diyakini akan
                           lebih lengkap jika peneliti berpartisipasi secara aktif. Seorang peneliti
                           etnografi online yang berterus terang menyatakan posisi dan tujuan
                           penelitiannya, bukan tidak mungkin justru direaksi buruk oleh komunitas
                           online, sehingga peluang untuk memperoleh data yang mendalam
                           dan akurat menjadi terhambat, bahkan bukan tidak mungkin gagal.
                           Sementara itu, ahli etnografi virtual yang berperan sebagai anggota
                           komunitas online dan berpartisipasi aktif di dalamnya sering kali malah
                           lebih berpeluang memperoleh data yang lebih mendalam. Hanya saja
                           yang menjadi persoalan di sini, dari segi etika sejauh mana seorang
                           peneliti etnografi diperkenankan menutupi indentitasnya demi data,
                           ataukah seorang peneliti sejak awal perlu membuka diri meski dengan
                           konsekuensi ada kemungkinan langkah selanjutnya untuk memperoleh
                           data yang dibutuhkan menjadi terhambat. Dilema seperti ini, menurut
                           Garcia et al. (2009) bukanlah hal yang mudah untuk dipecahkan oleh
                           peneliti etnografi virtual.

                               Menyambut era revolusi informasi yang makin meluas di masyarakat,
                           Garcia et al. (2009) menyatakan sudah menjadi keniscayaan bahwa gaya
                           riset tradisional ahli etnografi perlu disesuaikan dengan perkembangan
                           zaman, khususnya berkaitan dengan munculnya komunitas online dalam

                                                                                                  257
   40   41   42   43   44   45   46   47   48   49   50