Page 46 - index
P. 46
Metode Penelitian Sosial
berbagai bentuknya seperti yang terjadi di masyarakat postmodern.
Di dalam komunitas online, perkembangan teknologi internet, seperti
pesan singkat dan artefak budaya seperti blog menjadi gaya komunikasi
yang makin populer dan penting, sehingga bagi ahli etnografi mereka
haruslah segera melakukan perubahan dan pengaturan riset yang lebih
sesuai dengan perkembangan masyarakat di era revolusi informasi.
Artikel yang ditulis Garcia et al. (2009), bagi para peneliti ilmu
sosial harus diakui menawarkan banyak hal baru, dan menjadi acuan
yang mengilhami perlunya dikembangkan strategi dan metode yang
berbeda untuk memahami aspek-aspek sosial-budaya pada masyarakat
dan komunitas online yang dewasa ini makin meluas. Tetapi, masalahnya
PRENADAMEDIA GROUP
kemudian, bagaimana mengimplementasikan strategi dan metode baru
untuk dapat lebih memahami komunitas online, terutama munculnya
realitas net generation, tanpa harus berisiko terjebak dalam lautan data
dan anonimitas subjek di kalangan komunitas cyberspace yang luar biasa
banyaknya?
NETNOGRAPHY: PILIHAN METODE UNTUK STUDI TENTANG
NET GENERATION
Munculnya berbagai metode interpretif yang melawan arus
kuat dari metode kuantitatif yang positivistik, seperti fenomenologi,
hermeneutik, dan etnometodologi harus diakui telah menawarkan daya
tarik tersendiri, terutama bagi para peneliti yang fokus mengkaji isu-
isu yang membutuhkan proses pendalaman dan interpretasi. Namun
demikian, bukan berarti berbagai metode penelitian kualitatif seperti
disebutkan di atas sama sekali bebas dari masalah. Ada sejumlah kritik
tajam yang dikemukakan Giddens (2010: 55-56) terhadap berbagai metode
penelitian hermeneutik, fenomenologi, dan etnometodologi. Pertama,
pandangan ketiga metode kualitatif interpretif seperti fenomenologi,
hermeneutik, dan etnometodologi, dinilai lebih banyak berurusan
dengan pengertian daripada dengan tindakan sebagai praksis. Kedua,
sebagai bagian dari konsekuensi yang pertama, tidak satu pun metode
di atas yang mengenali adanya sentralitas kekuasaan dalam kehidupan
sosial. Ketiga, norma-norma atau kaidah-kaidah sosial memungkinkan
adanya interpretasi yang berbeda-beda; di mana perbedaan interpretasi
terhadap sistem-sistem yang ada terletak pada inti perseteruan yang
berdasar pembagian kepentingan.
258

