Page 124 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 124

ARKEOLOGI TRANSPORTASI
              Perspektif Ekonomi dan Kewilayahan Keresidenan Banyumas 1830–1940an



              memperoleh kontrak antara 1 Juli 1879 sampai 1899 untuk mengangkut kopi
              dari  Priangan, juga memanfaatkan jalur transportasi wilayah  Banyumas.
              Dengan mendirikan gudang kopi di Banjar, ia mengangkut kopi hasil
              panenan dari  Priangan Timur melalui Sungai Citandui ke  Cilacap. Jumlah
              kopi yang diangkut oleh Leeuw selama tiga tahun berturut-turut sejak
              tahun 1882 sampai tahun 1884 masing-masing adalah 32.660 pikul, 12.012
              pikul, dan 21.060 pikul. 18
                   Alasan utama mengapa kopi dari  Priangan Timur dibawa ke  Cilacap
              karena secara geografis pengangkutan ke Pelabuhan  Cilacap lebih mudah,
              yaitu melalui jalur sungai, dibandingkan dengan pengangkutan ke  Batavia
                                                                                19
              yang hanya bisa dilakukan melalui jalan darat dengan cara jalan kaki.
              Rute pengangkutan itu baru mengalami perubahan pada bulan September
              1884, ketika rel kereta api milik perusahaan kereta api negara di wilayah
                Priangan telah mencapai Cicalengka. Sejak saat itu, kopi dari  Priangan
              Timur tidak lagi dibawa ke  Cilacap, melainkan langsung dibawa ke  Batavia
                                             20
              dengan menggunakan kereta api.
                   Di samping kopi dari  Priangan Timur, sebagian dari Keresidenan
               Cirebon juga diangkut melalui jaringan transportasi di  Banyumas.
              Pengusaha angkutan yang mendapat konsesi untuk mengangkut kopi
              dari  Cirebon ke  Cilacap adalah  Khoe The Jin. Ia mendapat konsesi untuk
              mengangkut kopi sampai tahun 1882, setelah itu digantikan oleh  Khoo
              Boen Tiong yang mendapat konsesi pengangkutan sampai tahun 1884.
              Kendala geografis menyebabkan kopi-kopi dari bagian selatan  Cirebon
              lebih mudah untuk dikapalkan melalui  Cilacap. Setelah kopi dibawa
              dengan gerobak atau dipikul menyusuri jalan darat sampai ke Banjar,
              kopi tersebut lalu diangkut dengan perahu melalui Sungai Citandui ke
              Pelabuhan  Cilacap. 21



                 18  Kolonial Verslag 1885, Bijlage PPP.
                 19  S. A. Reitsma, De wegen in de Preanger, (Bandoeng: G. Kolff & Co., MCMXII), hlm. 3-5
                 20  S. A. Reitsma, Korte geschiedenis der Nederlandsch Indische spoor-en tramwegen, (Weltevreden:
              G. Kolff & Co., 1928).
                 21  Susanto Zuhdi, “Hubungan Pelabuhan Cirebon Dengan daerah Pedalaman: Suatu Kajian
              Dalam Kerangka Perbandingan Dengan Pelabuhan Cilacap, 1800-1940,” dalam Depdikbud,
              Cirebon Sebagai Bandar Jalur Sutra, (Jakarta: Depdikbud RI, 1997), hlm. 117-127.


              106
   119   120   121   122   123   124   125   126   127   128   129