Page 8 - index
P. 8
vi Membaca, Gaya Hidup dan Kapitalisme
kalangan remaja urban. Berbeda dengan pelbagai studi sebelumnya yang
mengkaji perilaku membaca dari perspektif pendidikan, atau lebih sempit
lagi sebagai bagian dari kegiatan belajar di sekolah, studi ini memahami
perilaku membaca remaja urban sebagai bagian dari kegiatan masyarakat
dalam mengisi waktu luang (leisure) dan sebagai aktivitas yang penuh
dengan kesenangan, serta sekaligus tidak terlepas kaitannya sebagai bagian
dari mata rantai produk budaya populer kekuatan kapitalisme.
Buku ini penting untuk diterbitkan, bukan saja karena studi tentang
perilaku membaca untuk kesenangan dari perspektif Cultural Studies belum
pernah dilakukan di Indonesia, tetapi juga karena buku ini diharapkan
akan dapat membuka sebuah perspektif baru yang berkaitan dengan upaya
pengembangan kemampuan literasi dan peningkatan kualitas sumber daya
manusia. Hasil kajian dan publikasi UNDP tentang Human Development
Report dari tahun ke tahun bisa kita lihat senantiasa menempatkan Indonesia
dalam peringkat di atas angka 100, di bawah Vietnam, Thailand, Malaysia,
dan Brunai Darusalam. Untuk meningkatkan peringkat Indonesia di bidang
pembangunan kualitas manusia dalam Human Development Report, oleh
karena itu salah satu langkah taktis yang dibutuhkan adalah bagaimana
meningkatkan minat masyarakat untuk membaca, yang notabene merupakan
langkah awal untuk meningkatkan kemampuan literasi masyarakat menuju
bangsa yang benar-benar berkualitas.
Buku ini secara rinci mencoba mengidentifi kasi dan memaparkan
situasi problematik yang timbul berkaitan dengan perkembangan industri
budaya di bidang penerbitan, gaya hidup dan perilaku membaca untuk
kesenangan di kalangan remaja urban. Berbeda dengan pandangan Mazhab
Frankfurt dan Teori Postmodern yang melihat kekuatan industri budaya
dan pengaruh kapitalisme yang begitu dominan dan menghegemoni selera
serta cita rasa konsumen, buku ini menjelaskan bahwa di balik berbagai
tekanan dan tawaran menarik yang dilontarkan industri budaya lewat media
massa, ternyata yang namanya remaja urban masih memiliki kebebasan
dan ruang untuk menafsirkan sendiri kemauan, kebutuhan dan bahkan
hasrat mereka akan bacaan yang disukai. Bagi remaja yang benar-benar
kecanduan membaca (riil-adiktif), mereka bukan saja mampu berperan
aktif menciptakan dan membangun waktu luang menurut persepsi mereka
sendiri, tetapi mereka juga mampu memilih bacaan sesuai seleranya dan

