Page 4 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 4

Dokumen ini teregistrasi hanya untuk Sdr/Sdri : ika.rudianto@staf.unair.ac.id - email: ika.rudianto@staf.unair.ac.id , Dilarang menyebarluaskan dokumen ini !!!
                                                                        CERPEN


       ika.rudianto@staf.unair.ac.id

                                                                                SABTU 12 FEBRUARI    TAHUN 2022    HALAMAN 4



                                                                                                               Aku mengangguk meski aku   itu menginspirasinya,    membaca surat perjanjian,
                                                                                                              tahu ia tak bisa melihatnya.   sungguh ia seorang yang   kebun itu baru dibayar 8
                  Naraščajoča                                                                                 Dammahum  sudah sampai     buru-buru, ”tidak ada     kemudian uang –tiga ratus
                                                                                                                                                                   tahun kemudian… sampai
                                                                                                                                         sadis.”
                                                                                                              ”Kabar tentang kematian
                                                                                                                                          ”Demi Allah,” kata Omar
                                                                                                                                                                   juta– itu yang mulanya
                                                                                                              kepadamu, Mar?”
                                                                                                               Hening. 
                                                                                                                                                                   kuniatkan untuk
                                                                                                                                         maksud menuduh Mak
                                                                                                               ”Kami juga baru tahu.”
                                                                                                                                                                   digunakan untuk
                                                                                                                                          ”Antoni Gaudi jelas tak
                                                                                                               ”Aku tidak menyalahkan    menyalahgunakannya.”      menguliahkan Omar malah
                                                                                                              Mak dan Kiai.”             punya aib sebagaimana     membantu keluarga Amir.
                                              Oleh: BENNY ARNAS                                                Ah, Omar, kenapa kau      Pleþnik, Mar!”            ”Tapi, tidakkah apa yang
                                                                                                              masih memanggil ayah        ”Karena kadung tahu      Kiai lakukan pada kau dan
                                                                                                              tirimu Kiai? Apakah        keberadaan Kiai di balik   aku adalah semacam
             Aku tahu Omar tersinggung dengan kata-kata Kiai yang beredar                                     ”rekonsiliasi” kalian di   layar hidupku, aku juga   balasan dari Allah, Mar?”
              di kalangan pesantren hingga akhirnya sampai ke telinga kami.                                   Hunza tidak lagi berlaku   ingin tahu kenapa Amir    Aku mengungkit lagi jatah
                                                                                                              ketika kau akhirnya        bersikap aneh.”           bulanan dua puluh juta
                Dan aku juga tahu kalau putra semata wayangku itu pun tak                                     mengetahui bahwa ayah       ”Kita akan ketemu di     yang Kiai transfer tiap
               bisa berbuat apa-apa. Sebab, kalaupun ayah tirinya memang                                      tirimulah yang membiayai   Jembatan Tiga Lipat di    tanggal enam.
                                                                                                              hidupmu selama ini? Ah.    Ljubljana nanti, Mak?”     ”Berapa saldo yang
                  mengatakan itu, Omar, pun ibunya ini, bisa berbuat apa?                                      ”Aku sekarang justru       ”Mak!”                   tercetak?” kejar Omar.
                                                                                                              sedang di Slovenia, Mak.”   Aku menggigil di ujung    ”Seribu dua ratusan euro.”
                                                                                                               ”Apa?” Omar pasti         pelantang-suara ponsel.   Ya, aku ingat, Kiai
                                                                                                              menangkap keterkejutanku   Omar pasti bisa           memberikan buku tabungan
                                                                                                               ”Kau menemukan            merasakannya.             bersampul Banka
                                                                                                              makamnya?”                  ”Mak kenapa begini?!”    Slovenijedi kereta ketika
                                                                                                               ”Baru kemarin, Mak.”       Aku tahu, aku salah.     kami melakukan perjalanan
                                                                                                               ”Oh…”                      ”Persetan sama Pleþnik   dari Ljubljana ke Budapest. 
                                                                                                               ”Di hari kesembilanku di   dan Gaudi!”               Omar menutup
                                                                                                              Ljubljana.”                 ”Maaf, Mar.”             percakapan dan terus
                                                                                                               ”Kata ayahmu…” aku         ”Persetan juga sama      mengingatkan perihal buku
                                                                                                              terenyak oleh kata-kataku   Dammahum yang mati       tabungan.
                                                                                                              sendiri. Aku ingin         secara misterius! Persetan   Lima hari kemudian, kami
                                                                                                              mengganti ayahmu dengan    dengan musabab            merancang pertemuan di tepi
                                                                                                              Kiai, tapi telat.          pemakamannya di           Sungai Ljubljanica pada suatu
                                                                                                               ”Apa kata Kiai, Mak?”     Ljubljana, sementara ia   siang yang sejuk di bulan Mei.
                                                                                                               ”Pekan ini kami akan ke   mengembuskan napas        ”Tanpa Kiai,” tegas Omar.
                                                                                                              sana.”                     terakhir di Pakistan, dan   ”Kami baru pulang dari
                                                                                                               ”Aku mungkin sudah balik   semua keluarga besarnya   ziarah,” kataku. ”Kiai sedang
                                                                                                              ke Austria, Mak.”          yang kaya raya itu justru ada   istirahat.”
                                                                                                               ”Nanti kami mampir ke     di Singapura!”             Kami melewati begitu saja
                                                                                                              Salzburg.”                  Aku memaklumi            kanal-kanal Ljubljanica,
                              181233 181233
                                                                                                               ”Oh tidak perlu,” ralat   kemarahannya. ”Kamu tahu   menyusuri jalan sekunder di
                                                                                                              Omar. ”Akan kusempatkan    kabar tentang Dammahum    selatan yang dipayungi
                                                                                                              bertemu. Kabari kalau      sempat menyamar menjadi   kanopi mapel yang sedang
                                                                                                              kalian sudah tiba. Aku ingin   orang biasa?” aku bicara   jingga-jingganya. Dua puluh
                                                                                                              mengajak Mak ke Sungai     dangan volume pelan, tapi   menit kemudian, bangunan
                                                                                                              Ljubljanica.”              aku yakin ia masih bisa   klasik bertulisan Banka
                                                                                                               Hanya bertemu aku, Mar?   mendengarku.              Slovenije berdiri gagah di
                                                                                                               ”Bukanlah, kata Mak dulu,   ”Sebutan orang biasa    hadapan kami.
                                                                                                              Mak hanya sempat           rasanya tidak tepat karena ia   ”Bagaimana, Mak?”
                                                                                                              membuka buku tabungan di   membelah diri menjadi     desaknya ketika aku
                                                                                                              Ljubljana?”                pegiat literasi yang pintar   memandangi angka tujuh
                                                                                                               ”Kiai yang                ngomong.”                 juta tujuh ratus enam puluh
                                                                                                              membuatkannya, Mar,”        ”Dan menjadi yang        enam ribu euro di bagian
                                                                                                              kataku datar. Aku dan Kiai,   lain-lain juga.”       bawah halaman pertama
                                                                                                              batinku melengkapi.         ”Apakah benar bahwa      buku tabungan dengan wajah
                                                                                                               ”Mak,” kataku seperti     garin yang                memerah dan gelombang
                                                                                                              menginterupsi, ”kenapa Kiai  mempermalukannya dalam   yang mengaduk-aduk dada.
                                                                                                              mau mencari tahu makam     sebuah penyamaran         Kecuali setoran pertama,
                                                                                                              murid yang telah           beberapa tahun silam      semua merupakan kiriman
                                                                                                              mengkhianatinya,           adalah Kiai?”             atas nama Omar Salamullah.
                                                                                                              pemimpin yang zalim pada    ”Muridnya Kiai malah, Mar.”  ”Mungkin Maryam Jayarini –
                                                                                                              rakyatnya?”                 ”Sampai sekarang aku tak   istri tuanya yang tak pernah
                                                                                                               ”Kiai yakin Dammahum      habis pikir, Mak,” kataku,   Kiai siarkan ke publik– itu
                                                                                                              melakukan hal-hal yang kita   ”bagaimana bisa aku dan   lebih membutuhkan
                                                                                                              sebut buruk itu bukan tanpa   Amir tidak mengendus   daripada seorang madu
                                                                                                              alasan, Mar.”              ketidakberesan sekutu jin itu.”  sepertimu, Mak.”
                                                                                                               ”Semua kita begitu, Mak,”   ”Sebagaimana kau tidak   Air bah itu menjebol
                                                                                                              kejar Omar. ”Mana ada kita   menyangka kalau Amir yang  dadaku. Dari bangku taman
                                                                                                              melakukan sesuatu tanpa    tak pernah pacaran,       Banka Slovenije ini,
                                                                                                              motif. Mak jangan main     sepeninggal Kiai, menjadi   segalanya menyepi di
                                                                                                              kata sama penulis. Pasti ada  sopir Dammahum…”       mataku yang basah.
                                                                                                              hal lain.”                  ”…dan berpacaran dengan   ”Ada Omar, Mak,” Omar
                                                                                                               ”Kamu sendiri?” Aku       Jannah?”                  menggamit bahuku hingga
                                                                                                              mencoba, entah, apakah      Aku tertawa. Omar juga   punggungku bersandar di
                                                                                                              mengalihkan percakapan     ikut tertawa.             lekuk lengannya. ”Sudah
                                                                                                              atau menantang balik Omar.  ”Kamu memang sudah       ada Omar, Mak,” tegasnya.
                                                                                            ILUSTRASI:
                                                                                            BUDIONO/
                                                                                                               ”Orang nomor satu tanah
                                                                                                                                                                    Aku mendongak. Dari
                                                                                            JAWA POS          air dimakamkan di Eropa    tahu semua?”              rahangnya yang
                          ”             ENAR Mak          Sejak menerima pinangan                             Timur bagiku menarik.      Dammahum takut istri, Mak.”  bergemeretak, Omar bagai
                                                                                                                                          ”Aku juga tahu kalau
                                        memegang buku
                                                                                                                                          ”Dammahum yang
                                                                                                                                                                   hendak menanyakan hal
                                                                                                              Meski aku belum tahu akan
                                        tabungan itu?”
                                                                                                              menulis apa tentang
                                                                                                                                                                   yang sama untuk kali
                                                                                                                                         mana?”
                                         ”Bank
                                                                                                                                                                   kesekian. Aku pikir, aku
                                                                                                              pemimpin yang
                                                                                                                                          ”Dammahum bisa
                              BSlovenia?”
                              konfirmasiku, ketus. Sempat-  Kiai, semua kebutuhan Omar                        menyebabkan Kiai malah     membelah diri di luar, tapi   sudah mampu
                                                         dari kelas satu SMP sampai
                                                                                                              betah di Hunza itu.”
                                                                                                                                         tidak ketika berada di dalam
                                                                                                                                                                   menjawabnya. Mungkin
                              sempatnya Omar             tahun kedua kuliah         mana makmu ini dapat uang   ”Kiai dan Dammahum       rumah.”                   memang sudah saatnya aku
                              membicarakan urusan        ditanggung suamiku itu.    kalau bukan dari Kiai?”   sama-sama mengidolakan      ”Aku juga tidak tahu, Mar.”  melepaskan diri dari… Kiai.
                              sensitif beberapa jam      Tidak itu saja, bersama     ”Jadi kebun karet kita tak   Jože Pleþnik.”          ”Lalu, apa hubungan       Selamanya. Segalanya.
                              sebelum bertolak ke Bandara   sahabatnya Amir, karena   lagi menghasilkan?” tanyanya   Omar mengerutkan    antara kemampuan          Selepas-lepasnya. Sejauh-
                              Gilgit. Lima hari di utara   kesalehan dan ketangkasan   usai Kiai meninggalkan kami   kening, mengingat-ingat.  Dammahum membelah diri   jauhnya. (*)
                              Pakistan ini ngapain saja?!  mereka berdua dalam bela   berdua di beranda vila usai   ”O, bagaimana kau baru   dan Amir yang tak
                                Kalau masih butuh uang,   diri, Omar mengawal Kiai ke   makan malam.          ingat? Penulis macam apa   berkabar?”                Lubuklinggau, Februari 2022
                              kan ia tinggal ngomong. Aku   mana-mana. Tapi, begitu   Aku tidak menyangka ia   kau ini!”                  ”Sabar, Mar.” Omar
                              pasti mengirimkannya       mengetahui kalau Kiai      masih mengingat kebun      ”Bukannya Kiai lebih      memang cerkas. Meski
                              seperti selama ini. Apalagi   memiliki dua istri –dua   yang sudah kujual untuk   mengidolakan Gaudi, Mak?”  kukelak-kelokkan
                              pembuangan Kiai ke         istri!– beberapa hari setelah ia  membantu ibu sahabatnya    ”Sejak bertemu     sedemikian rupa, ia masih
                              Pakistan justru membuat    dibuang ke selatan Asia,   yang jatuh miskin karena   Dammahum, ia tahu kalau   ingat hulu percakapan kami.
                              pesantren suamiku makin    Omar dan Amir putar haluan.  ditinggalkan suami yang   Pleþnik kerap disejajarkan   Hening.
                              diminati sehingga berapa   Omar kuliah ke Inggris dan   menikah lagi. ”Ibunya Amir   dengan arsitek Sagrada   ”Pertama,” aku menghela
                              pun yang kuminta untuk     tak mau bicara dengan ayah   sudah seperti ibuku sendiri,   Familia itu.”       napas. ”Amir sibuk bekerja
                              Omar, Kiai tak pernah      tirinya lagi, sementara Amir   Mak,” rengeknya 15 tahun   ”Padahal bisa saja itu   padanya. Kedua, itu     BENNY ARNAS
                              mempermasalahkannya.       malah mengabdi pada        yang lalu. Tidakkah kau   akal-akalan Dammahum       bertepatan dengan          Penulis asal Lubuklinggau.
                              Uh, kekusutan ini          Dammahum!                  ingat semua itu, Mar?     agar…”                     pemberian bantuan kepada   Bergiat di bennyinstitute.
                              membuatku bersyukur tidak   Omar sempat marah ketika   Omar diam.                ”Kalau begitu cara        ibunya Amir.”
                              menepuk-nepuk              teleponku bukan untuk       ”Biaya kuliahmu masih    pandangmu, Mar,”            ”Amir tidak tahu?”        MAKLUMAT
                              punggungnya hanya untuk    mengucapkan selamat atas   bisa diurus ayahmu. Begitu   potongku, ”Pleþnik-lah yang   ”Mana aku tahu,” aku
                              bilang ”Sabar ya, Mar”     pemuatan esainya di New    pikiranku waktu itu.”     beruntung disandingkan     menolak disalahkan. ”Yang   JAWA POS menerima kiriman
                              ketika pemilik Old Hunza   York Times, melainkan       Omar masih diam. Aku tak   dengan Gaudi. Bukan      jelas, hubungan Amir dan   cerpen dengan panjang naskah
                                                                                                                                                                   1.700 kata. Juga resensi buku
                              Inn –yang ketika itu sedang   membuka status uang     tahu, apakah kata-kataku   sebaliknya.”              kakak-kakaknya sudah lama   dengan jumlah kata maksimal 500.
                              menjenguk vila yang Kiai   kirimanku kepadanya        membuka kesadarannya       Omar menghela napas.      terganggu sejak mereka    Pengirim cerpen dan resensi buku
                              sewa– menyebut Omar        selama ini. Sejak itu, ia tidak   atau karena yang lain.  ”Maaf, Mak…”          memilih ikut ayah dan ibu tiri   harap menyertakan biodata singkat,
                                                                                                                                                                   foto terbaru, kartu identitas, dan
                              sangat beruntung karena    mau lagi menerima kiriman   Percakapan kami tak       ”Apa-apaan, Mar,” tepisku.  mereka,” terangku. ”Amir juga   NPWP. Cerpen dan resensi buku
                              memiliki ayah seperti Kiai.  uang dariku. Tentu saja   berlanjut hingga ia bertolak   ”…kenapa Amir tak pernah   mungkin menjaga jarak atau…   dikirim ke sastra@jawapos.co.id
                                ”Aku tidak apa-apa, Mak.”   sikapnya terlihat berlebihan   ke Austria via Paris dari   bercerita kepadaku bantuan   bisa saja malu kepadamu dan
                              Omar menoleh, menolak      di mataku. Meskipun aku    Gilgit untuk residensi    kita itu ya, Mak?”         keluarga kita, Mar.”
                              kukasihani.                tidak tega bilang,         menulisnya di Eropa Timur   ”Mar?” Bagaimana ia bisa   Omar diam lagi. Mungkin
                                                         ”Memangnya berapa sih      selama tiga bulan.        semaunya mengubah topik.   ia sedang berpikir kenapa ia
                                                         penghasilan penulis?”. Tidak.   ”Bagaimana Salzburg?”   ”Aku sudah menyampaikan   tidak menganalisis masalah
                                                         Tidak akan mungkin aku     kataku sebulan yang lalu di   pendapatmu tentang     itu sejernih aku. Ah, Omar,
                                                         mengecewakannya. ”Tapi,    pelantang suara ponsel.   Pleþnik yang ambisius      apa pentingnya aku
                                                         anakku Omar,” ingin sekali   ”Kota yang indah, Mak,”   sehingga mendesain ulang   memberi tahu anak 12
                                                         aku mengelus-elus          katanya. ”Ke Eropa Timur   Ljubljana sejak gempa besar   tahun sebagaimana tak
                                                         rambutnya seperti ia kecil   waktu itu, Mak menyempatkan  1895 meluluhlantakkan   perlu kuberi tahu bahwa,
                                                         dulu, ”memangnya dari      ke sini, kan?”            Ljubljana. Kalau bencana   karena ketaktelitianku
   1   2   3   4   5   6   7   8   9