Page 324 - PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS AIRLANGGA
P. 324

PSIKOLOGI DAN TEKNOLOGI INFORMASI

                 Di dalam kepatutan sosial, terdapat dua kecenderungan, yaitu
            berpura-pura baik (faking good) dan berpura-pura buruk ( faking
            bad).  Faking good, misalnya ketika subjek menyadari sedang
            diukur kebahagiaannya sehingga ia akan menampilkan dirinya
            bahagia karena menyadari dirinya sedang dinilai. Sementara  faking
            bad misalnya terjadi ketika subjek sedang diukur kecemasannya.
            Subjek akan berpura-pura seolah-olah dia cemas, mungkin karena
            dia berharap agar mendapatkan cuti. Untuk itu, seorang peneliti
            hendaknya membuat situasi sedemikian rupa agar responden atau
            subjek penelitian tidak menyadari sedang diukur konstruk tertentu.
            Oleh karena itu, Azwar (2014) menyarankan agar peneliti tidak
            menyebutkan secara eksplisit variabel yang hendak diukur, namun
            dapat menggantinya dengan inisial. Misalnya, skala  self-effi cacy
            diubah menjadi skala Sierra Echo.
                 Mahasiswa yang saat ini sedang menempuh pendidikan Psikologi
            dari jenjang S1, S2 maupun S3 niscaya juga merupakan generasi
            digital. Generasi digital adalah orang yang telah tumbuh dengan
            akses mudah ke informasi digital dan teknologi komunikasi. Prensky
            (dalam Awaludin, 2009) membagi generasi digital menjadi dua macam
            yaitu generasi digital native dan generasi  digital immigrant. Generasi
            digital native merupakan kelompok yang saat mulai belajar menulis
            sudah mengenal internet atau yang saat ini adalah orang yang berada
            di bawah usia 24 tahun. Sedangkan  digital immigrant yaitu generasi
            angkatan orang dewasa atau orang tua yang mengenal internet setelah
            mereka tumbuh dewasa.
                 Digital native memiliki beberapa ciri khusus yang membedakan-
            nya dengan generasi sebelumnya.  Pertama, dalam hal  identitas.
            Digital native cenderung memperhatikan masalah  identitas. Mereka
            sangat peduli dengan ke-”berada”-an diri mereka. Akibatnya, mereka
            membuat akun di Facebook, Twitter, Youtube, dan  media sosial lain
            untuk membuktikan kepada dunia bahwa mereka ada. Kenarsisan
            ini menjadi hal yang wajar karena mereka menemukan media yang
            dapat memuaskan hasrat untuk eksistensi mereka. Kedua, dalam hal
              privasi. Generasi digital native cenderung lebih terbuka, blak-blakan,
            dan open minded. Apabila ada hal yang mereka sukai, maka mereka
            akan bilang suka, dan sebaliknya jika tidak suka, mereka akan bilang
            tidak suka. Mereka juga merasa tidak masalah “membuka” diri mereka,



          292
   319   320   321   322   323   324   325   326   327   328   329